Menjadi Generasi Gemilang

Kamu pernah dengar nama-nama beken dan keren kayak Imam Syafi’i, Ibnu Abbas, Umar bin Abdul Aziz, Ali bin Abi Thalib; Sufyan ats-Tsauriy; Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ibnu Sina, al-Khawarizmi dan ratusan bahkan ribuan nama-nama generasi emas yang dilahirkan Islam? Atau jangan-jangan nama-nama ini kalah sama idola kamu saat ini: Pasha, Bams, Tompi, Luna Maya, Titi Kamal, dan Omaswati? Hehehe.. maaf-maaf aja, kalo kamu lebih kenal deretan nama yang kedua, berarti sungguh sangat memprihatinkan. Why?

Yup, sebab deretan nama-nama yang disebut pertama adalah nama-nama ulama dan ilmuwan Islam dari generasi sahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan salafus shalih Sementara nama-nama di deretan kedua adalah seleb di dunia hiburan saat ini. Jelas beda dong kelas dan kualitasnya.

Oke. Back to laptop, eh, back to tema. Iya, seenggaknya kita bisa merenung dengan deretan nama ulama dan ilmuwan Islam tersebut. Betapa hebatnya Islam memoles manusia biasa menjadi yang luar biasa. Manusia yang sederhana menjadi manusia istimewa. Oya tentu, di atas nama-nama itu, Muhammad Rasulullah saw. adalah orang yang paling keren dan beken dalam sejarah panjang peradaban Islam dan peradaban manusia.

Sobat, kamu pasti pada penasaran dong kenapa mereka bisa sampe “dahsyat” dan “luar biasa”, iya kan? Hmm.. mari kita temukan jawabannya dalam tulisan ini. Kita akan eksplor beberapa nama yang bisa mewakili betapa hebatnya Islam dalam mendidik dan mengarahkan manusia menjadi lebih mulia. Nggak kayak sekarang, dalam kehidupan masyarakat yang dinaungi kapitalisme-sekularisme, tumbuh banyak generasi ‘sampah’ ketimbang generasi emasnya. Menyedihkan banget!

Oya, itung-itung ‘memperingati’ Hardiknas yang jatuh pada 2 Mei (nah, pas tulisan ini dibuat memang tepat tanggal 2 Mei 2007), maka STUDIA juga bahas tentang pendidikan. Tapi, STUDIA ingin fokus bahas tentang generasi gemilang yang berhasil dihasilkan peradaban Islam. Generasi yang dididik oleh keluarga yang hebat, dididik oleh masyarakat yang peduli, dan dibina negara yang bertanggung jawab. Sebab, jujur aja bahwa keluarga dan masyarakat yang hebat seperti ketika Islam digdaya itu adalah hasil dari pemerintahan yang menerapkan Islam sebagai ideologi negara. Sudah terbukti kok. Sumpah!



Lahir dari keluarga hebat

Ibnu Qayyim al-Jauziyah pernah menyampaikan bahwa, “Bila terlihat kerusakan pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah bersumber dari orangtuanya.” Nah, lho. Benar firman Allah Swt. yang tercantum dalam al-Quran agar kita waspada dengan anak-keturunan kita dan diwajibkan untuk menjaga diri kita dan diri mereka dari siksa api neraka:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS at-Tahrim [66]: 6)

Sabda Rasul saw.: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanyalah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi. (HR Bukhari)

Bro, untuk bisa dapetin keluarga yang hebat dalam mendidik anak, hebat dalam kualitas keimanannya kepada Allah Swt., tentunya kita sendiri wajib menjadi baik berdasarkan tuntutan dan tuntunan ajaran Islam yang benar pula. Kita dan calon pasangan hidup kita kudu baik dua-duanya. Sebab, tentu bagai pungguk merindukan bulan berharap dapet keturunan yang berkualitas tapi kita sendiri sebagai ayahnya atau ibunya nggak taat total sama Allah Swt. dan RasulNya. Iya nggak sih? So, mari kita menjadi baik dan mencari pasangan yang baik pula suatu saat nanti.

Ini mutlak dipenuhi. Sebab, hanya dari keluarga hebat yang menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak-anaknya yang akan melahirkan generasi gemilang super keren. Kamu pernah tahu Zubair bin Awam? Ia adalah salah seorang dari pasukan berkudanya Rasulullah saw. yang dinyatakan oleh Umar ibnul Khaththab, “Satu orang Zubair menandingi seribu orang laki-laki.” Ia seorang pemuda yang kokoh akidahnya, terpuji akhlaknya, tumbuh di bawah binaan ibunya, Shafiyah binti Abdul Muthalib, yakni bibinya Rasulullah atau saudara perempuannya Hamzah ra (pamannya Nabi). Wuih, pantes aja keren!

Ali bin Abi Thalib juga nggak kalah keren. Sejak kecil hidup bersama Rasulullah saw. (bahkan masuk Islam pada usia 8 tahun), beliau adalah pemuda teladan bagi pemuda seusianya. Beliau dibina langsung oleh ibunya, yakni Fathimah binti Asad dan yang menjadi mertuanya, Khadijah binti Khuwailid ra. Waduh, jaminan mutu dah!

Begitu pula dengan Abdullah bin Ja’far, seorang bangsawan yang terkenal kebaikannya. Beliau dididik langsung oleh ibunya yang bernama Asma binti Umais.

Sobat, tiga nama ini tentu menjadi bukti bahwa bakalan lahir generasi hebat dan gemilang jika keluarganya juga hebat. Tentu keluarga seperti ini pasti udah menyiapkan generasi penerusnya agar lebih baik dari mereka. Nggak main-main, gitu lho.

Kalo kamu belum puas dengan tiga nama tadi, Islam masih memiliki Umar ibnu Abdul Aziz. Beliau pernah menangis sedih ketika usianya masih sangat kecil. Ibunya bertanya kenapa Umar menangis? Beliau menjawab, “Aku ingat mati, Bu!” Saat itu, beliau sudah hapal al-Quran. Mendengar jawaban sang buah hati, ibunya pun menangis terharu. Duh, pantes aja udah dewasanya beliau menjadi Khalifah (kepala negara pemerintahan Islam). Subhanallah!

Boys, berkat didikan dan pembinaan ibunya yang shalihah, Sufyan ats-Tsauriy tumbuh menjadi ulama besar dalam bidang hadist. Saat ia masih kecil ibunya berkata padanya, “Carilah ilmu, aku akan memenuhi kebutuhanmu dengan hasil tenunanku.” Wuih, berbahagialah memiliki ibu yang bisa memotivasi kita untuk menjadi lebih baik. Benar-benar udah disiapkan dengan matang. Semoga kita juga bisa seperti beliau-beliau ya. Amin. Sekarang belum terlambat kok untuk berbenah. Insya Allah.

Girl, sosok ayah juga kerap mampu memberikan warna bagi anak-anaknya. Kalo baik dalam mendidik anaknya, insya Allah akan melahirkan generasi yang super keren. Salah satunya adalah ulama penulis tafsir Fizilalil Quran, yakni Syaikh Sayyid Quthb. Beliau menyampaikan testimoni untuk ayahnya, “Semasa kecilku, ayah tanamkan ketakwaan kepada Allah Swt. dan rasa takut akan hari akhirat. Engkau tak pernah memarahiku, namun kehidupan sehari-harimu telah menjadi teladanku, bagaimana prilaku orang yang ingat akan hari akhir.” (Majalah al-Muslimun No. 298, Januari 1995)

Duh, keluarga yang hebat. Maka, wajar pasti akan lahir generasi gemilang hasil pendidikan keluarga yang keren seperti itu. Pantas saja Imam Syafi’i udah bisa hapal al-Quran seluruhnya pada usia 7 tahun dan menjadi qadhi (hakim) pada usia 17 tahun. Luar biasa dan super genius!



Di bawah lindungan negara

Sobat, generasi gemilang Islam juga bisa kian mengkilap setelah ‘diproduksi’ oleh pemerintahan yang menerapkan Islam sebagai ideologi negara. Untuk mencerdaskan kaum Muslimin dan rakyatnya secara umum, Khilafah Islamiyah menyediakan lembaga-lembanga keilmuan. Islam membangun ribuan al-Katatib, yakni wadah keilmuan untuk mempelajari al-Quran, menulis dan berhitung. Dibudayakan juga diskusi-diskusi keilmuan di masjid-masjid untuk melayani pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat soal fikih, hadis, tafsir dan bahasa. Bahkan Muqri Rasy’an bin Nazhif ad-Dimasyqi mendirikan lembaga keilmuan Quran (untuk mempelajari al-Quran) pada tahun 400 H di Damaskus. Sementara khusus untuk hadis, didirikan oleh Nuruddin Mahmud bin Zanky, juga di Damaskus. Selain itu, madrasah (sekolah) dan Jami’ah (universitas) juga didirikan.

Al-Hakam bin Abdurrahman an-Nashir telah mendirikan Universitas Cordova yang saat itu menampung (mahasiswa) dari kaum muslimin maupun orang Barat. Selain itu dibangun pula Universitas Mustanshirriyah di Baghdad. Sekadar tahu aja, universitas-universitas ini telah mencetak para ilmuwan yang pengaruhnya mendunia hingga saat ini melalui berbagai temuan-temuannya, seperti al-Khawarizmi, Ibnu al-Haisam, Ibnu Sina, Jabir bin Hayan, dan lainnya (Muhammad Husein Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm. 158-159)

Hasil pendidikan dan penyediaan fasilitas yang bagus ini paling nggak dalam sejarah tercatat beberapa perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim. Beberapa di antaranya: bidang kedokteran (kaum muslimin berhasil mengembangkan teknik pembiusan untuk pertama kalinya dalam sejarah kedokteran dunia, dikembangkan juga teknik operasi, pendirian rumah sakit dan obat-obatan).

Dalam ilmu kimia (di sini kaum muslimin mengenalkan istilah alkali, menemukan amonia, teknik destilasi atau penyulingan, penyaringan, dan sublimasi, memperkenalkan belerang dan asam nitrit, mempopulerkan industri kaca dan kertas, serta penemuan lainnya). Dalam ilmu tumbuh-tumbuhan (melakukan penelitian terhadap tumbuh-tumbuhan yang bisa digunakan untuk pengobatan, bahkan mengklasifikasikan berbagai jenis tumbuhan).

Terus, dalam ilmu pengetahuan alam (penemuan neraca, penemuan pendulum untuk jam dinding, ilmu optik, dan telah mampu merumuskan perbedaan antara kecepatan cahaya dan kecepatan suara, termasuk kaum muslimin berhasil menemukan teknologi kompas magnetis untuk mengetahui arah mata angin); matematika (berhasil dikembangkan perhitungan desimal dan kwadrat, juga menciptakan berbagai rumus) (O. Solihin, Yes! I am MUSLIM, hlm. 315-316)

Bro, kalo mo ditulis semua kayaknya nggak bakalan cukup cuma di satu edisi buletin kesayangan kamu ini. Mungkin perlu beberapa edisi. Tapi yang pasti, kita pun bisa menjadi generasi gemilang seperti pendahulu kita tersebut. Insya Allah bisa dengan mencontoh model pendidikan yang dikembangkan Islam.

Ya, sebab tujuan pendidikan dalam Islam adalah (1) membentuk manusia agar memiliki kepribadian Islam, (2) mengarahkan peserta didik agar bisa menguasai tsaqafah Islam, (3) menciptakan manusia yang ngerti soal iptek, dan (4) Islam mendidik manusia agar memiliki keterampilan yang memadai untuk pelengkap dalam kehidupannya.

So, tentunya dibutuhkan jaringan dan kerjasama pembinaan yang mantap antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan juga negara. Semua komponen wajib serius dan penuh perhatian untuk menghasilkan generasi gemilang. Jangan sampe beda arah dan salah mendidik, sehingga ketika di rumah udah oke, eh, di sekolah nggak benar (atau sebaliknya) karena beda cara dan kebijakan. Nggak banget!

Yuk, kalo emang benar meneladani Rasulullah saw., maka kita teladani juga cara beliau dalam mendidik manusia dengan Islam.



Next......
Selamat Menempuh 'Hidup Baru'

Lingkungan baru, temen-temen baru, atau guru-guru baru. Kondisi ini yang sering ambil bagian dalam balada para siswa baru saat menginjakkan kakinya di sekolah baru. (Hmm…jadi nostalgia deh. Inget waktu masih muda). Yup, memasuki lingkungan baru di sekolah emang punya daya tarik tersendiri. Ada yang bikin bahagia, tapi nggak sedikit juga yang bikin manyun. Ih sebel deh!

Yang bikin bahagia, apalagi kalo bukan petualangan menaklukkan lingkungan baru. Berusaha mencairkan kekakuan antara kita dengan orang-orang ‘aneh’ yang baru dilihat. Atau saat kita mulai mengkoleksi ‘benda-benda’ yang bikin kita tetep semangat untuk berangkat sekolah. Mulai dari temen deket, tempat ngeceng, jajanan favorit, guru favorit, lawan jenis favorit, kakak kelas favorit, sampe penjaga pintu gerbang favorit (biar bisa diizinin masuk kalo kesiangan). Seru kan?

Yang bikin manyun, biasanya kita dianggap junior alias anak bawang yang udah dikutuk kudu ngikutin segala bentuk aturan tak tertulis dari para senior. Hiks..hiks..hiks.. Terutama pas hari pertama jalanin masa-masa orientasi atau perkenalan. Bukannya karpet merah atau sambutan meriah yang kita dapet, malah seabrek tugas untuk membawa barang-barang aneh bin ajaib keesokan harinya. Bayangin aja, udah mah rambut di multi-kepang (kepang banyak) pake tali rapia, tas dari keresek item, kaos kaki bola, masih kudu bawa telor seperempat matang atau guling yang isinya benang. Kalo nggak cerdas, alamat kena hukuman tuh. Ampun dah!

Santai aja sobat, suka dan duka di sekolah baru, emang udah biasa. Yang nggak boleh dianggap biasa, saat kita bikin masalah atau malah jadi biang masalah di lingkungan baru. Kita bakal dianggap songong ama kakak kelas, dicemberutin temen seangkatan, dan yang lebih parah berurusan dengan pihak sekolah. Berat tuh tanggung jawabnya. Makanya mumpung masih jadi siswa baru, dari awal kita bikin kesan yang baik untuk semua. Biar pendidikan kita lancar dan yang penting nggak bikin ortu kecebong eh kecewa. Yuk?



Saatnya mencari bekal

Sobat, kisah petualangan kita selaku siswa baru di sekolah baru pastinya diawali saat masa orientasi yang unforgetable. Yup, sejak saat itu pelan-pelan tapi pasti, tanpa kita sadari otomatis kita ngumpulin ‘bekal’ buat jalanin hari-hari berikutnya. Emang, bekal apa sih yang doyan dikumpulin siswa baru?

Pertama, teman. Keberadaan seorang teman udah jadi kebutuhan primer buat kita dalam bergaul. Apalagi saat memasuki sekolah baru. Berburu teman pantes diagendakan di awal-awal sekolah. Selain bisa berbagi rasa, kecewa, atau bahagia, adanya teman juga bikin kita nggak sendiri dalam lingkungan yang belum dikenal. Meski penting punya teman, bukan berarti kita dapetinnya asal. Bukan berarti pula kita sampe perlu ngadain audisi untuk nyari teman. Ribet amat. Yang penting, kita punya temen selevel sahabat yang saling bantu baik materil maupun spirituil. Kayak Audi dan Nindi gitu deh. Ehm..

Kedua, tempat tinggal (buat yang nge-kost). Untuk pelajar atau mahasiswa yang dateng jauh-jauh dari luar kota, nyari tempat tinggal sementara buat nge-kost nggak bisa disepelein. Selain untuk menghemat ongkos, jadi anak kost punya keuntungan bisa belajar bareng dan lebih bersosialisasi dengan teman sebaya atau masyarakat luas. Nggak heran kalo di lingkungan kampus, aneka macam kost sudah tersedia. Dari yang murah meriah hingga yang mewah dengan fasilitas serba wah. Sesuaikan aja dengan kocek ortu.

Ketiga, kakak kelas. Sebagai senior, kakak kelas yang udah duluan makan asam garam (nggak ada kerjaan ya pake makanin asem ama garem segala) di sekolah pasti punya segudang pengalaman berharga. Pengalaman suka-duka mereka bisa bantu kita lebih siap menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Syukur-syukur nggak cuman pengalaman yang mereka wariskan, tapi juga buku pelajaran yang masih bisa dipake. Lumayan dari pada beli. Seperti kata tukang loak, biar bekas yang penting berkualitas. Makanya, punya kenalan kakak kelas itu penting. Tinggal pandai-pandai kitanya aja nempatin diri di hadapan senior. Nggak pake SKSD (sok kenal sok deket) atau cuek bebek. Yang wajar-wajar aja lah. Ekoy, eh, okey?

Keempat, kegiatan. Setiap sekolah pasti punya kegiatan ekstra kurikuler sebagai media penyaluran bakat seni, olahraga, intelektual, atau agama bagi para siswanya. Nggak ada salahnya kalo kita ambil salah satu. Siapa tahu bisa menggali bakat kita yang terpendam. Plusnya lagi, para penghuni eks. skul biasanya nggak bikin gap meski beda generasi dan latar belakang. Temen beda kelas, kakak kelas, alumni, sampe guru semuanya berbaur. Itu artinya kita bakal punya lebih banyak temen dan kenalan. Asyik dong?



Ngumpulin bekal yang asyik

Sobat, daftar perbekalan yang kita kumpulin untuk ngadepin situasi kondisi di lingkungan sekolah baru selalu punya dua kencenderungan. Baik dan buruk. Tergantung bekal seperti apa yang kita pilih. Itu sebabnya, kita kudu hati-hati bin selektif dalam memilihnya. Bukannya pilih kasih, cuma jaga-jaga aja. Kalo salah pilih, bukannya membantu malah menjerumuskan kita. Berabe banget kan?

Pertama, teman. Untuk urusan temen, Rasulullah saw. mengingatkan kita dalam sabdanya: “orang itu mengikuti agama teman dekatnya, karena itu perhatikanlah dengan siapa ia berteman dekat” (HR. Tirmidzi)

Teman yang baik akan memberikan pengaruh yang baik buat kita. Dalam belajar, bergaul, atau menghadapi masalah. Sehingga kita merasa nyaman bersamanya tanpa khawatir melupakan kewajiban belajar atau beribadah pada Allah Swt. Itu berarti teman yang baik nggak sungkan untuk saling menasihati dan mengingatkan di saat khilaf. Figur teman yang baik model gini lahir dari ketaatannya pada Allah dan RasulNya. So, carilah teman yang bisa ngajak kita untuk taat, bukan bermaksiat. Kalo soal penampilan, itu mah selera masing-masing. Silahkan aja pilih yang borju, gaul, sporty, tawadhu, funky, atau nyantri, yang penting takwa. Yuk!

Kedua, tempat tinggal. Selain teman, lingkungan sekitar juga punya pengaruh yang kuat dalam membentuk watak dan karakter kita. Abu Musa meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “perumpamaan tentang teman duduk yang shalih dan teman duduk yang buruk adalah ibarat penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Maka dari penjual minyak wangi kalian bisa mendapatkan minyak wangi atau mencium keharumannya, sedangkan dari tukang pandai besi kalian bisa terjilat api yang membakar pakaian atau kalian akan terkena asapnya. (HR Bukhari)

Saran kita carilah tempat tinggal/kost-an yang nyaman untuk belajar; kondusif dalam membentuk kebiasaan baik (good habit) kita sehari-hari; mengajarkan kita untuk mandiri dan disiplin; mendorong diri kita untuk lebih dekat dengan Allah Swt. Seperti bangun tidur on time untuk shalat shubuh, berolahraga, menjaga kebersihan kost-an, ada waktu untuk mencairkan sikap ego bin individualis antar penghuni, dan yang terpenting ada kegiatan keagamaan yang membantu kita mengenal Islam lebih dalam. Hmm...indahnya....

Ketiga, kakak kelas. Menjaga hubungan baik dengan kakak kelas bukan semata-mata jadi kambing congek yang melulu dengerin pengalamannya, pengen jadi ahli waris buku pelajarannya atau malah nyari ‘beking’ (pelindung) lho. Walaupun ada oknum kakak kelas yang jutek, sok kuasa, atau gila hormat, kita tetep menghormatinya sebagai senior yang udah duluan menghuni sekolah. Jadi hubungan baik dengan mereka lantaran kita satu keluarga besar dalam sekolah yang sama.

Di sisi lain, kita boleh aja deket (bukan pacaran lho) dengan kakak kelas sejenis (cowok-cowok atau cewek-cewek). Karena secara pribadi mereka bisa kita jadikan panutan. Untuk urusan ini, baiknya kita dekat dengan senior yang punya track record bagus. Baik dari sisi prestasi akademis maupun perilaku. Agar bisa ngasih pengaruh yang baik juga buat kita.

Keempat, kegiatan. Untuk yang satu ini, kita sarankan carilah komunitas pengajian sebagai kegiatan utama. Bukan apa-apa, karena kegiatan ini yang paling besar manfaatnya buat kebaikan kita di dunia dan akhirat. Di tempat ini, kita bisa bersama-sama belajar mengenal Islam lebih dalam. Sama-sama membangun benteng akidah yang akan menjaga diri kita dari pengaruh buruk lingkungan. Dan yang terpenting, kita termotivasi untuk melatih diri agar menjadi orang yang bermanfaat untuk keluarga, lingkungan, dan umat. Siip kan?



Kenalilah diri kita

Sobat, status junior bukanlah aib yang kudu dibenci. Apalagi sampe punya niat untuk balas dendam kalo udah jadi senior. Idih, nggak lah yauw!

Makanya nggak usah pake minder atau ngerasa rendah diri cuma lantaran status kita junior. Justru kita kudu bersyukur. Soalnya, sebagai pendatang baru yang belum banyak tahu biasanya punya rasa ingin tahu yang gede. Rasa penasaran ini bisa jadi modal buat kita untuk menimba ilmu. PDOD alias percaya diri over dosis tanya sana-sini-situ ama guru, kakak kelas, satpam, tukang bersih-bersih sekolah, atau para penjual di kantin. Ujung-ujungnya kita punya kenalan banyak dan punya banyak info tentang lingkungan baru kita. Asyik kan? Yuuk!

Dan yang kita nggak boleh lupa, suatu saat kita akan dapat giliran menggantikan orangtua yang udah waktunya turun tahta. Itu berarti keberadaan kita sekarang akan melanjutkan kehidupan di masa depan. Untuk diri kita, lingkungan, masyarakat, maupun umat. Tolong dicatat ye.

Itu sebabnya, mumpung kita masih muda, galilah ilmu di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Hiasilah hari-hari kita dengan mengulang pelajaran sekolah, membaca buku/bacaan yang bermanfaat, atau nonton berita untuk mengetahui kondisi saudara-saudara kita di belahan dunia lain. Bergeraklah. Jangan biarkan diri kita seperti air yang menggenang yang akan berbau busuk dan menjadi sarang penyakit. Jadilah air yang mengalir yang akan memberikan manfaat pada setiap jalan yang dilaluinya.

Kembangkanlah potensi yang kita miliki untuk kebaikan, kemaslahatan orang lain, dan dakwah Islam. Jangan biarkan kita tergoda untuk mencicipi jalan pintas meraih popularitas melalui ajang pencarian bakat seperti yang kini marak tayang di televisi. Jauhkanlah bayangan bahwa semua kesuksesan akan mendatangkan keuntungan materiil yang melimpah di atas piring emas. Yang ada, justru kemenangan terburuk akan kita peroleh jika selalu dan hanya mengukur kesuksesan dengan keuntungan duniawi. Berlombalah mendapatkan kemenangan terbaik ketika ridha Allah selalu menyertai setiap perilaku kita.

Terakhir, mari kita sama-sama menjadi pengemban dakwah Islam yang handal. Generasi muda yang rindu surgaNya. Sebagaimana tercermin pada sosok pemuda pahlawan Islam seperti Thariq bin Ziyad yang menaklukkan Spanyol atau Muhammad al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel (Istambul). Nah, kalo nggak sekarang, kapan lagi, coba? Selamat menempuh ‘hidup baru’!



Next......
Setelah Putus Pacaran

Stop Press!! Artikel ini khusus buat mereka yang berpacaran dan pernah punya pacar. Waduh, gimana dong nasib mereka yang hidupnya lurus-lurus aja alias nggak pernah pacaran? Masa’ nggak boleh ikutan baca? Hehe... tentu boleh dong. Siapa tahu ada orang-orang di sekeliling kamu yang membutuhkan, padahal kamu masih belum punya pengalaman, kamu tinggal kasihkan artikel STUDIA edisi kali ini. Asyik kan?

Masa pacaran, siapa sih yang nggak panas-dingin bila mengenangnya? Panas-dingin karena teringat indahnya. Tapi bisa juga panas-dingin karena takut dosanya. Yang pasti sih, saya yakin kamu udah pada insaf kalo pacaran tuh cuma ajang menumpuk dosa akibat baku syahwat yang melanggar syariat. Kalo masih belum yakin juga, kamu bisa baca-baca lagi file STUDIA yang lalu-lalu biar ingatanmu fresh lagi.

Nah, udah ingat lagi kan? Kamu yang dulu memutuskan si dia karena takut dosa. Kamu yang memutuskan kekasih karena insaf. Kamu yang tak mau lagi mempunyai ikatan nggak sah. Kamu yang udah nyadar dan nggak pingin mengulangi lagi. Entah kenapa tiba-tiba aja bayangan si dia nongol lagi dalam benakmu.

Tiba-tiba aja nggak sengaja ketemu di angkot. Atau di tempat les bahasa Inggris. Atau bisa juga karena kamu yang lagi beres-beres kamar menemukan satu lembar foto doi dalam pose yang bikin kamu tersepona. Tapak kenangan dirinya ternyata belum hilang sepenuhnya dari benakmu. Duh... gimana menyikapi rasa ini?

Padahal kamu tahu bahwa jalinan cinta itu tak mungkin lagi untuk diulang. Ia hanya penggalan masa lalu yang kudu dikubur dalam-dalam. Terus, gimana dong?



Ketika si dia hadir kembali

Setelah beberapa saat mampu melupakan bayangan dirinya, tak disangka tak diduga tiba-tiba si dia hadir lagi dalam kehidupanmu. Kehadirannya pun mampu menghadirkan suasana haru-biru yang dulu pernah singgah di hatimu. Meski kalian sudah tak ada lagi ikatan, kenangan lama itu begitu indah untuk dilewatkan begitu saja. Bagaimana pun, kamu masih menyimpan direktori memori itu dalam salah satu sudut hati. Ehem...

Tenang aja, yang namanya perasaan itu bersifat ghoib kok, nggak terlihat. Karena nggak terlihat maka tak bisa pula dikenai hukum. Tapi meskipun bebas dari hukum, bukan berarti kamu bisa bebas juga membiarkannya tanpa batas. Catet ye!

Bukanlah ada Yang Maha Mengetahui baik yang ghoib dan yang nyata? Ya, meski tak ada satu pun teman yang memergoki, tapi kamu pantas malu dong sama Dia. Ia Yang Maha Memantau kondisi hatimu. Lagi pula, kalo yang namanya rasa, meski nggak terlihat tapi ia akan membekas pada perbuatan. Jadi, bisa aja kamu tanpa sadar menyebut namanya. Atau setengah pingsan berusaha lewat depan kelasnya hanya demi bisa melihat sosoknya meski sekilas. Duh... sampe sebegitunya ternyata kalo perasaan dimanjakan.

Padahal sedari awal ketika kamu mengambil keputusan untuk mem-PHK dia, kamu sudah sadar sesadar-sadarnya bahwa pacaran adalah salah satu jalan syaitan untuk mengajak maksiat. Karena kamu nggak mau jadi teman syaitan, maka kamu pun nggak mau lagi pacaran. So, sebetulnya kamu itu udah paham kok bagaimana menyikapi pacaran. Cuma yang kamu agak nggak paham adalah menyikapi kenangan yang kadangkala timbul tenggelam kayak tanpa dosa, gitu.

Apalagi biasanya mereka yang sebelumnya menjadi aktivis pacaran, biasanya rentan banget untuk diajak balik oleh sang mantan. Memang sih nggak semua, cuma jaga-jaga aja kalo ternyata kamu ternyata adalah tipe yang lemah ini. Waspadalah!



Hati-hati musang berbulu domba

Jangan terjebak dengan bujuk rayu dunia. Entah sang mantan ngajak balik, or ada ikhwan berbulu domba yang ngajakin kamu pacaran dengan bingkai Islam. Mulutnya manisnya ngajak ta’aruf tapi aktivitasnya nggak beda jauh dengan pacaran. Eh, ternyata karena si ceweknya lemah iman (tentu cowoknya juga dong), mau aja ia nginap berhari-hari di rumah si ikhwan tanpa hajat alias keperluan syar’i yang jelas, misalnya.

Meskipun sudah jadi calon suami dan bawa teman sekampung, kamu masih belum boleh tuh nginap di rumahnya. Apalagi pake acara pelesir ke tempat-tempat rekerasi. Duh duh... di mana pemahaman kamu tentang hukum syara’ selama ini? Or jangan-jangan kamu bolos ya waktu pembahasan topik pergaulan dalam Islam? Atau.. memang nggak paham?

Kamu kudu hati-hati, saat ini banyak ikhwan jadi-jadian kayak gini. So, biar kamu nggak terjerumus lagi, niatkan hijrahmu ini karena Allah saja, bukan yang lain. Lalu berkumpullah dengan orang-orang sholeh dalam hal ini akhwat-akhwat sholihah yang menjaga diri dan pergaulan. Dengan berkumpul bersama mereka, akan ada orang yang akan menjaga dan menasihati kamu bila akan salah langkah.

Kalo sudah sampe pada tataran ini, kamu kudu introspeksi. Apa yang salah pada dirimu? Kenapa bayangan doi masih menari-nari? Kenapa kenangan itu sulit dihapus dari hati?

Pertama, mungkin saja kamu lagi krisis hati yang bermula dari kekurangdekatan kamu pada Yang Maha Membolak-balik hati. Kamu masih punya sekian banyak waktu luang sehingga terbuka peluang untuk bengong. Padahal yang namanya syaitan itu paling demen masuk pada momen ini. Panjang angan-angan dengan banyak melamun.

Kedua, ganti ‘kacamata’ yang kamu pake. Si mantan boleh jadi adalah seseorang yang terlihat begitu perfect di matamu. Udah cakep, tajir, ramah, baik hati, suka menolong, rajin menabung, patuh pada orang tua, rajin sholat lagi. Bagi yang belum paham hukum pacaran, cowok tipe ini adalah all girls ever want.

Jadi bisa aja kamu begitu dengan berdarah-darah saat memutuskannya. Hehehe..biar hiperbolis gitu kedengarannya. Maksudnya, kamu sebetulnya masih sayang sama dia dan nggak ingin pisah darinya. Tapi kesadaranmu terhadap keterikatan pada hukum Allah Swt., bahwa pacaran adalah aktivitas mendekati zina, jauh lebih kamu pilih daripada kelembutan si dia.

Ketiga, bisa jadi kamu ternyata nggak begitu paham konsep jodoh. Kamu mati-matian masih berat sama dirinya meski udah putus. Ada terbersit rasa takut dalam dirimu gimana kalo ternyata si mantan nikah sama cewek lain.

Itu artinya, kamu belum benar-benar putus dan mengikhlaskan dirinya pergi. Jadinya, kamu masih ada harap-harap si dia akan datang dan ngajakin kamu merit. Padahal harapan itu jauh panggang daripada api alias sulit terwujud. Lha wong ternyata pacarmu saat ini malah asyik berlumur maksiat dengan punya cewek baru setelah kamu putus.

Iman adakalanya bertambah dan berkurang. Ketika imanmu sedang tinggi-tingginya, kamu begitu pasrah dan ikhlas melepaskannya. Tapi ketika iman sedang down, kamu merasa begitu sayang dan ingin kembali padanya. Itu sebabnya ada resep sederhana: iman bertambah jika taat kepada aturan Islam, iman berkurang tentu jika kita maksiat kepada Allah dan RasulNya. Pilih mana ayo? Orang cerdas, pilih taat syariatNya dong ya. Betul ndak?



Yakinlah pada takdirNya

Yakin pada qadha alias keputusan Allah yang ditetapkan atas diri kita, adalah kuncinya. Selama kita telah berjalan pada rambu-rambu syariatNya, maka selebihnya bertawakallah. Allah hendak menguji imanmu, apakah kamu lebih mencintai sang mantan pacar ataukah taat pada aturanNya? Kamu nggak bisa dong mengaku-aku beriman padahal belum jelas siapa saja yang bakal sanggup melewati pintu-pintu ujian itu. So. ati-ati deh.

Ada sebuah peristiwa, sepasang remaja yang saling mencinta harus rela memutuskan ikatan tanpa status yang mereka punya alias pacaran. Kedua pasang remaja ini adalah pasangan idola di masa SMA. Beberapa tahun kemudian, yang akhwat alias remaja putri tadi memutuskan untuk menerima khitbahan seorang ikhwan. Entah dengan alasan apa, ia memutuskan tidak mau melihat siapa calon suaminya hingga akad tiba. Ia hanya percaya saja pada pembina ngajinya tentang kualitas nih ikhwan. Sumpah!

Dan tepat ketika akad nikah tiba, saat ia harus mencium tangan suaminya, ia mendongak dan jatuh pingsan. Apakah suaminya bewajah seperti beast hingga ia shock? Ternyata sebaliknya. Suami yang kini telah sah menjadi pasangan jiwanya adalah seseorang yang begitu dalam terpatri di lubuk hatinya. Kekasih yang diputuskannya karena Allah dan saat ini Allah pula yang menyatukan sang kekasih dengan dirinya lagi.

Tapi kamu jangan buru-buru gembira dulu. Wah, asyik, aku putusin aja sang pacar sekarang. Beberapa tahun lagi ia pasti akan datang meminang dan menikahiku. Waduh, kalo gitu caranya, kamu taat syariat tapi dengan pamrih tuh. Namanya nggak ikhlas, Non. Padahal sebuah amal nggak bakal diterima bila bukan semata-mata hanya mengharap ridhoNya saja. Jadi, pamrih yang dibolehkan cuma ridho Allah, lain tidak.

Karena ada juga sebuah kisah lain yang tidak sama dengan yang di atas. Nih akhwat cakep banget dan di masa jahiliyah sebelum paham Islam dengan baik dan benar, pacar-pacarnya selalu cakep dan kaya. Setelah ngaji, ia pun memPHK pacarnya dan tak mau lagi berhubungan dengan mereka.

Dua tahun mengaji, ada ikhwan datang meminangnya. Kondisi ikhwan ini sangat jauh dari tipe laki-laki yang pernah menjadi pacar-pacarnya. Secara fisik, nih ikhwan lebih pendek dari si gadis. Apalagi kakinya juga cacat sebelah. Secara harta, ia pun masih awal dalam pekerjaannya. Tapi apa yang dilakukan oleh si gadis? Ia menerima ikhwan ini karena satu hal, kesholehannya.

Kemungkinan ini sangat bisa terjadi. Mungkin secara fisik dan harta, jodohmu tak seindah yang pernah menjadi pacar-pacarmu. Tapi satu hal, bila kesholihan seseorang yang kamu jadikan patokan, maka insya Allah akan barokah dunia akhirat. Dan yang utama, niat atau motivasi kamu dalam beramal sangat menentukan kualitas dirimu ke depan.



“Aku baik-baik saja”

Yakinkan dirimu dengan prinsip: “Aku akan baik-baik saja” (meski tanpa si doi). Jangan terlalu memanjakan perasaan. Kenangan itu hadir kalo kamu emang berusaha menghadirkannya. Emang sih, kenangan itu nggak mungkin bisa terhapus dari memori hatimu. Bahkan, ia merupakan bagian dari proses pendewasaan kamu untuk melangkah ke masa depan. Tapi, itu bukan alasan untuk kemudian berlarut-larut dalam kenangan yang tak berkesudahan. Sebaliknya, tanamkan dalam diri bahwa kamu akan menjadi seseorang yang lebih baik dengan menanggalkan masa lalu yang berlumur dosa akibat menjadi aktivis pacaran.

Jangan mengulang kesalahan yang sama ketika kamu sudah meng-azzam-kan diri alias bertekad untuk berubah. Kalo ternyata sikap dan kelakuan kamu masih sama, bukan nama kamu saja yang bakal jelek. Tapi citra muslimah berjilbab dan anak ngaji pun akan tercoreng. Ibarat susu sebelanga, jangan sampai kamu menjadi nila setitik itu.

Pancangkan tekad kuat bahwa kamu nggak akan pernah tergoda lagi untuk ngulangin pacaran. Kamu nggak akan terbuai oleh embel-embel Islam padahal sejatinya adalah maksiat. Dan supaya nggak terjatuh ke lubang yang sama, kamu kudu rajin mencari ilmu tentang batasan pergaulan dalam Islam. Jangan menjadi anak ngaji hanya karena pingin dapat jodoh dari sana. Sesungguhnya setiap amalan dinilai Allah berawal dari niatnya.

Yakinlah kamu akan baik-baik saja kok meski tanpa sang mantan or si ikhwan jadi-jadian. Jodohmu sudah tertulis sejak mula ruhmu ditiupkan. Bahkan Allah telah menjanjikan bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik juga untuk laki-laki yang baik. Begitu sebaliknya (coba deh kamu buka al-Quran surat an-Nuur ayat 26). Kamu nggak usah resah dan gelisah masalah jodoh. Toh kita hidup bukan cuma ngurusi masalah satu ini kan? Selama kamu maksimal beikhtiyar dengan jalan yang baik dan benar, jodoh yang datang nanti juga nggak jauh dari kualitasmu. Yakin aja.



Next......
Yuk, Kita Bersyukur!

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, dan hanya bagi Allah semata. Allah Swt. adalah Dzat yang satu-satunya kita sembah dan kita mintai pertolongan. Nggak ada yang lain. Sebab, Dia telah memberikan segalanya bagi kita dan kehidupan kita. Kayaknya nggak pantes banget kalo sampe kita tidak bersyukur kepadaNya. Minimal banget adalah dengan mengucap “alhamdulillah” atas segala nikmat yang telah diberikanNya kepada kita. Tul nggak sih?

Sobat muda muslim, bersyukur kepada Allah Swt. adalah sebagai bentuk “serah diri” kita kepadaNya. Kita bisa hidup, sehat jasmani, bisa makan dan minum, bisa mengenyam pendidikan, dan bisa mendapatkan berbagai kenikmatan dunia lainnya. Termasuk, kita wajib bersyukur karena kita menjadi Muslim. Suer, menjadi Muslim itu kebanggaan tersendiri dan tentu saja anugerah terindah yang kita miliki. Nggak bisa ditukar dengan duit sebesar apa pun. Itu sebabnya, kita wajib bersyukur.

Ya, jangan sampe kita bisa mengucap alhamdulillah hanya saat dapetin makanan dan minuman yang enak atau bentuk materi lainnya. Dan kita merasa inilah yang harus kita syukuri. Itu benar. Tapi, kalo menganggap bahwa kenikmatan hanya sebatas makanan dan minuman aja, kayaknya perlu di-upgrade deh pemahamannya. Karena Allah Swt. nggak cuma ngasih itu, tapi udah ngasih kita pendengaran, penglihatan, dan juga akal. Justru inilah pemberian yang termasuk berharga banget buat kita. Tentu, wajib kita bersyukur atas nikmat-nikmat tersebut. Kalo nggak? Waduh, jangan sampe deh Allah Swt. murka kepada kita.

Seorang sahabat Nabi saw. bernama Abû Dardâ ra pernah mengatakan, “Barangsiapa yang tidak melihat (merasakan) nikmat yang Allah berikan kepadanya kecuali hanya pada makanan dan minumannya, maka sesungguhnya ilmu (ma’rifat-nya) sangat dangkal dan azab pun telah menantinya” (Abu Hayyân al-Andalusi, al-Bahr al-Muhîth fî al-Tafsîr, jilid 6, hlm. 441. Maktabah Tijâriyyah Musthafa al-Bâz)

Dalam al-Quran Allah azza wa jalla menyampaikan firmanNya:

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَْبْصَارَ وَالأَْفْئِدَةَ قَلِيلاً مَا تَشْكُرُونَ

“Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (akal)”. Tetapi amat sedikit kamu bersyukur.” (QS al-Mulk [67]: 23)

Wah, wah, Allah seolah-olah ‘nyindir’ ama kita-kita nih kalo sampe kita nggak bersyukur kepadaNya. Tapi kalo dipikir-pikir emang bener juga sih. Manusia di seluruh dunia ini, kayaknya sedikit juga yang benar-benar bersyukur (lha, buktinya Allah Swt. menyatakan dalam firmanNya begitu). Silakan kamu tengok kanan-kiri, depan-belakang. Teman kita, tetangga kita, atau bahkan kita sendiri malah nggak bersyukur dengan nikmat ini. Duh, malu deh.

Kalo emang benar-benar bersyukur sih, kita harusnya bisa memanfaatkannya untuk kebaikan seraya memuji Sang Pemberi nikmat, yakni Allah Swt. Memuji tentu bukan sekadar mengucap “alhamdulillah”, tapi juga terwujud dalam perilaku dan gaya hidup kita yang hanya mau diatur oleh Allah Swt.

Diatur? Yup, karena kita udah berjanji dalam sholat wajib lima waktu sehari. Paling nggak kan dalam sholat baca surat al-Fatihah sebanyak 17 kali sehari. Ada pengakuan jujur dari kita bahwa hanya Allah sajalah, tiada yang lain yang disembah dan dimintai pertolongan: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”.

Dalam ilmu balaghah, untuk menggambarkan makna “membatasi” atau pengkhususan dikenal dengan istilah “Taqdiimu maa ahaqqohu at-ta’khiiru” (mendahulukan yang seharusnya diakhirkan). Seperti dalam kalimat “Iyyaka na’budu” (hanya Engkaulah yang kami sembah). Berarti ini menutup kemungkinan bagi yang lain yang akan kita sembah. Akan berbeda jika ditulis: “Na’budu iyyaka” (kami menyembahMu). Secara ilmu nahwu boleh juga ditulis seperti itu. Tapi rasa bahasanya lain, dan pernyataan itu masih ada kemungkinan untuk menyembah yang lain selain Allah.

Itu sebabnya, dalam hidup ini hanya kepada Allah sajalah kita menyerahkan segala urusan. Bukan kepada yang lain. Itu artinya pula, bahwa hanya kepada Allah sajalah kita menghaturkan pujian sebagai rasa syukur atas karuniaNya kepada kita selama ini.



Bersyukurkah kita?

Waduh, nggak berani deh tunjuk jari kalo diajukan pertanyaan seperti ini. Tapi, sejujurnya emang kepengen banget menjadi orang yang bersyukur. Bahkan ingin tetap menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah Swt.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah, seorang tokoh ulama terkemuka, menjelaskan bahwa hakikat syukur kepada Allah itu adalah tampaknya bekas nikmat Allah pada lisan sang hamba dalam bentuk pujian dan pengakuan, di dalam hatinya dalam bentuk kesaksian dan rasa cinta, dan pada anggota tubuhnya dalam bentuk patuh dan taat. (Ibn Qayyim al-Jauziyah, Tahdzîb Madârij al-sâlikîn oleh Abdul Mun‘im al‘Izzî, hlm. 348)

So, kita bisa ngukur diri kita dengan penjelasan dari Ustadz Ibnu Qayyim ini. Lisan kita apakah selalu mengucap pujian dan pengakuan kepada Allah Swt. Sang Pemberi nikmat kepada kita? Apakah lisan kita terbiasa mengucapkan alhamdulillah? Atau malah nggak pernah sama sekali? Termasuk mengakui Allah Swt. sebagai Pencipta sekaligus yang memberi nikmat kepada kita? Pertanyaan ini cuma kita sendiri yang bisa jawab. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang bersyukur.

Terus, dalam hati kita, apakah udah kita wujudkan dalam bentuk kesaksian dan rasa cinta kepada Allah Swt. Bersaksi bahwa tidak ada Dzat yang wajib disembah kecuali Allah Swt. Itu sebabnya, tumbuh rasa cinta yang paling kuat dan besar hanya kepada Allah Swt. Sebagaimana Allah Swt. menjelaskan dalam firmanNya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat (besar) cintanya kepada Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 165)

Lalu, membekaskah rasa syukur kita kepada Allah dengan penampakkan anggota tubuh kita dalam bentuk patuh dan taat kepadaNya? Mari kita mengukur diri kita. Seberapa pantas kita bersyukur yang terwujud pada patuh dan taat kepada Allah Swt. Kita bisa bertanya, apakah selama ini, kita sudah patuh dan mentaati perintahNya? Sholat, puasa wajib Ramadhan, dan zakat pernah kita lakukan dengan sungguh-sungguh karena ketaatan dan kepatuhan kita kepadaNya?

Bagaimana dengan kehidupan kita? Apakah dalam kehidupan sehari-hari kita sudah mematuhi perintahNya? Kewajiban menutup aurat misalnya, udah ditetapkan Allah Swt. dan Rasulnya. Bagi anak cewek yang udah baligh, nggak boleh keluar rumah menampakkan auratnya. Jadi, harus ditutup tubuhnya dengan busana muslimah, yakni jilbab dan kerudung.

Anak cowok yang udah baligh juga sama, meski batasan auratnya nggak seketat anak cewek, anak cowok kalo keluar rumah daerah pusar ame lutut kudu tertutup. Karena itu auratnya. Kayaknya udah pada paham deh soal ini. Yang perlu diingatkan lagi tuh pengamalannya. Sebab, ngamalinnya emang yang rada-rada males, gitu. Pantesan Allah Swt. menyindir manusia karena ternyata sangat sedikit yang bersyukur kepadaNya.

Imam Ibn Qayyim dalam kitab yang sama lebih lanjut menjelaskan bahwa syukur itu mempunyai 5 (lima) pilar pokok yang apa bila salah satunya tidak terpenuhi maka syukur menjadi batal dan dianggap belum bersyukur.

Lima pilar pokok itu adalah: Pertama, kepatuhan orang yang bersyukur kepada Pemberi nikmat. Kedua, mencintaiNya. Ketiga, mengakui nikmat dariNya. Keempat, memujiNya atas nikmatNya. Dan yang kelima, tidak menggunakan nikmat yang diberikanNya untuk sesuatu yang tidak Dia sukai.

Sobat muda muslim, ini penting banget kita ketahui. Biar kita bisa bersyukur kepada Allah Swt. dan dengan cara yang benar. Khusus penjelasan terakhir dari pilar pokok bersyukur, yakni nggak menggunakan nikmat yang diberikanNya untuk sesuatu yang nggak Dia sukai. Jelas banget. Lha kalo ortu kita aja ngasih duit ke kita, terus duit itu kita gunakan buat hura-hura dan bahkan maksiat, pasti ortu kita marah besar. Nah, apalagi Allah Swt.? Tul nggak sih?

Seperti kemarin-kemarin ada syukuran atas kemerdekaan negeri ini. Acara “Tujuhbelasan” dirayakan dengan meriah di berbagai tempat. Sebagian besar dari kita suka-cita. Tapi, begitukah cara bersyukur? Atau pertanyaan yang seharusnya: “Benarkah sudah merdeka jika ketaatan, kepatuhan, dan penyerahan diri ditujukan bukan kepada Allah Swt? Benarkah kita harus merasa bergembira dan bersyukur sementara aturan Sang Pemberi nikmat malah dicampakkan? Lalu setia diatur oleh sistem Kapitalisme-sekularisme dengan instrumen politiknya bernama demokrasi?” Ah, betapa akan murka Allah Swt. kepada kita. Naudzubillahi min dzalik.

Terusirnya penjajah dari negeri kita memang anugerah. Tapi, kalo kemudian pemberian itu malah diisi dengan cara menjadikan hukum selain Allah sebagai pengatur kehidupan berbangsa dan bernegara, ya tentunya belum dikatakan bersyukur. Karena udah mengkhianati Sang Pemberi nikmat, yakni Allah Swt., ketika kita nggak mau diatur oleh syariatNya. Nggak adil en nggak pantes mengkhianati Allah Swt. Tolong catet ye.



Bersyukur dan ridha dengan aturanNya

Yuk, kita bersyukur. Baik dalam lisan, hati, dan perbuatan kita. Harus kita wujudkan tuh jika benar-benar mengakui dan mencintai Allah Swt. yang udah ngasih begitu banyak nikmat kepada kita sebagai manusia. Bukan cuma karena kita Muslim. Sebab, al-Quran sebenarnya adalah kabar gembira dan peringatan bagi manusia secara umum. Manusia yang sadar dan beriman tentu beda banget dengan yang nggak sadar dan nggak beriman. Tul nggak sih? So, jangan sampe menunggu Allah murka kepada kita gara-gara kita nggak bersyukur dengan benar kepadaNya.

Sobat muda muslim, pembuktian kalo kita bersyukur itu adalah tunduk dan patuh kepada aturan yang ditetapkan oleh Allah Swt. Itu sebabnya, jangan coba-coba malapraktik dengan cara kita sendiri untuk ngatur kehidupan manusia. Pedoman hidup kita cukup al-Quran saja. Bukan aturan yang lain. Allah menjelaskan dalam firmanNya:

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,” (QS al-Israa’ [17]: 9)

Dalam ayat lain Allah Swt. menyampaikan (artinya): “Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” (QS al-Baqarah [2]: 2)

Jadi, Allah Swt. memang meminta kita mentaati petunjukNya. Tapi kalo kita bandel, malah memilih petunjuk selain aturan Allah untuk jalan hidup kita, berarti kita belum bersyukur dan justru malah mengkhianatiNya.

Allah Swt. mengingatkan kita dengan firmanNya (yang artinya): “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, (dengan) kesesatan yang nyata.” (QS al-Ahzab [33]: 36)

Oke deh sobat, semoga kita menjadi hamba yang bersyukur dan taat kepadaNya. Amin.



Next......
Jomblo Vs Pacaran

Jomblo. Satu kosakata yang sangat ditakuti oleh banyak orang saat ini terutama remaja. Why? Karena kosakata ini mengandung makna negatif yang bikin alergi. Suatu pertanda tidak lakunya seseorang untuk mendapatkan teman kencan dari lawan jenis. Idih…nggak laku? Emangnya jualan kolor?

Tapi asli kok, banyak banget remaja apalagi kalangan cewek yang merasa seperti kena kutukan kalo sampe predikat jomblo mereka sandang. Akhirnya dengan berbagai macam cara mereka berusaha untuk melepaskan kutukan ini meskipun dengan berbagai cara. Sudah nonton film 30 Hari Mencari Cinta? Di film itu kan menceritakan tiga orang remaja cewek yang sama-sama berada pada kondisi jomblo. Mereka membuat kesepakatan untuk mencari pacar dalam waktu 30 hari. Bagi yang menang, maka ia akan menjadi raja dan diperlakukan bak putri karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh yang kalah.

Singkat cerita, mereka bertiga benar-benar fokus untuk mendapatkan pacar dalam rentang waktu itu. Karena ngebetnya, sampai-sampai harga diri pun sempat akan tergadaikan ketika sang pacar menginginkan making love alias berhubungan seksual layaknya suami-istri. Belum lagi ngebetnya salah satu tokoh di sana pingin merasakan nikmatnya ciuman bibir sampai melatih diri dengan guling. Naudzhubillah.

Belum lagi resiko bubarnya persahabatan yang mereka bina selama ini hanya karena cemburu dan khawatir pacarnya diembat sahabat sendiri. Meskipun ending-nya semua pacar-pacar karbitan itu pada bubar, tapi kita bisa melihat seberapa parah kondisi remaja kita saat ini terutama dalam pergaulannya.

So, ternyata predikat jomblo begitu menakutkan buat sebagian remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini. Meskipun seringkali dalam pacaran mereka juga merasa terpaksa. Bisa karena dipaksa teman, bisa karena dipaksa ortu, bisa juga dipaksa diri sendiri karena konsep diri yang salah. Jadi emang bisa banyak alasan.

Dipaksa teman terjadi bila teman satu genk pada punya cowok semua. Trus ada satu yang nganggur. Jadilah ada pemaksaan beramai-ramai supaya yang satu ini segera dapat gebetan. Udah deh, siapa aja boleh asal berstatus cowok. Waduh, gawat juga kan. Bisa-bisa sapi dipakein celana bisa diembat juga tuh saking nafsunya (hehehe…)

Ortu bisa jadi mengambil peranan dalam ajang kemaksiatan ini. Ada loh beberapa tipe ortu yang kelimpungan ketika anak gadisnya belum punya pacar. Padahal anaknya sendiri udah nyadar bahwa ini adalah ajang berlumur dosa. Eh, ortunya ngotot agar sih anak nyari pacar. Tulalit banget kan?

Atau bisa juga konsep diri remaja yang salah. Ia merasa merana tanpa punya pacar. Ia merasa jelek dan nggak laku ketika belum pernah merasakan rasanya pacaran. Ia akan jauh lebih bahagia bila ada cowok di sampingnya. Nah, ini adalah konsep yang salah dan menyesatkan.

Belum lagi dorongan media baik TV, radio ataupun majalah yang menawarkan gaya hidup bebas dengan label pacaran yang semakin gencar dilakukan. Udah deh, itu semua adalah banyak faktor yang bikin remaja ngebet untuk bisa pacaran. Padahal, apa sih yang didapat oleh pacaran, adalah perbuatan yang bisa kamu putuskan dengan sadar. Jadi, tulisan kali ini akan membantu kamu untuk membuat keputusan benar dalam hidup. Jangan sampai kamu melakukan perbuatan yang salah dan membuatmu menyesal kemudian. Lanjut!



Kenapa harus pacaran?

Hayo…bisa nggak kamu jawab pertanyaan ini? Kenapa harus pacaran? Hmm…mungkin di antara kamu ada yang menjawab:

‘biar nggak kuper’

‘biar nggak dibilang nggak laku’

‘biar ada cowok yang sayang sama kita’

‘biar ada semangat untuk belajar’

‘biar nggak malu dengan teman-teman yang pada punya pacar juga’

‘sekedar pingin tahu rasanya’

dll, masih banyak lagi alasan yang bisa kamu ajukan sebagai pembenaran. Oke deh, kita coba telaah satu per satu yah, masuk akal nggak sih alasan-alasan yang kamu punya itu.

Pacaran, adalah aktivitas yang dilakukan berdua dengan sang kekasih sebelum menikah. Aktivitas atau kegiatan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, makan bakso berdua, jalan berdua atau belajar bersama. Tapi alasan terakhir ini kayaknya banyak nggak jadi belajarnya deh karena pada sibuk mantengin gebetan masing-masing. Iya apa iya?

Kalo kamu sekedar takut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacaran itulah yang sebenarnya orang paling kuper dan kupeng sedunia. Why? Karena saya yakin orang pacaran itu dunianya akan berkutat dari pengetahuan tentang doi aja. Coba kamu tanya apa dia tahu perkembangan teknologi terkini? Apa dia tahu di Palestina itu ada masalah apaan sih? Apa dia juga tahu kalo Amerika itu ternyata adalah teroris sejati?

Yakin deh, pasti mereka yang suka pacaran itu nggak bakalan tahu topik beginian. Kalo begitu, mereka itulah yang kuper dan kupeng. Paling tahunya cuma apa hobi sang pacar, apa wakna favoritnya, apa makanan kesukaannya, dll. Coba Tanya berapa nilai ulangan matematikanya, fasih nggak bahasa Inggris-nya, bagus nggak karangan bahasa Indonesia-nya, dan hal-hal seputar itu, pasti deh aktivis pacaran pada bloon untuk hal beginian. Kalo pun ada yang pintar, itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan pacaran sebagai semangat belajar.

Sebaliknya, pacaran adalah adalah ajang maksiat. Bukankah sudah dikatakan oleh Rasulullah saw., “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (HR Ahmad)

Waduh, emang kamu mau jadi temannya setan? Hiii, naudzubillah banget tuh.

Jangan beralasan kamu kuat iman, maka tetep aja ngeyel berdua-duaan. Banyak tuh kasus ngakunya aktivis rohis dan niatnya dakwah eh..malah kebablasan pacaran. Teman SMA saya dulu aja ada yang MBA alias Married By Accident alias lagi hamil di luar nikah karena pacaran. Udah sekolahnya nggak bisa lanjut karena perutnya semakin gendut, ia adalah pihak yang dirugikan. Tuh, si laki-laki yang menghamili bisa dengan enaknya melanjutkan sekolah sampe tuntas. Belum lagi beban dosa besar yang harus ia tanggung. Ingat, berzina adalah salah satu dosa besar yang hanya bisa ditebus dengan taubatan nasuha. Taubat yang sungguh-sungguh dan tak akan pernah mengulangi lagi. Bukan taubat jenis tomat, saat ini tobat, besok kumat. Duh, itu sih namanya main-main alias nggak serius dan mau berubah total. Nggak baik, Non!



Jomblo adalah pilihan

Kok bisa? Di saat teman-teman pada risih dengan status jomblo, masa’ sih malah bisa dijadikan status pilihan? Bisa aja, why not gitu loh? Lagian tergantung persepsi kan?

Kondisi jomblo adalah kondisi yang independen, mandiri. Di saat teman-teman cewek lain serasa nggak bisa hidup tanpa gebetan, kamu merasa sebaliknya. Nggak harus jadi cewek tuh aleman, manja, tergantung ke cowok, dan merasa lemah. Huh…jijay bajay banget. Jadi cewek kudu punya pendirian, nggak asal ikut-ikutan. Meskipun teman satu sekolah memilih pacaran sebagai jalan hidup, kamu tetap keukeuh dengan prinsip: “jomblo tapi sholihah”. Huhuy!

Dulu, waktu saya masih duduk manis di bangku SMP dan SMA, ada seorang teman yang ngebet banget pingin punya pacar. Sampe-sampe kalo ada kuis di majalah remaja tentang siap-enggaknya pacaran, doi termasuk yang rajin mengisi untuk tahu jawabannya. Ternyata doi tipe yang sudah siap banget. Akhirnya fokus perhatian dia hanya ke cita-cita pingin punya pacar dan pacar mulu. Prestasi sekolah jadi anjlok. Padahal ternyata nggak ada yang mau sama doi (backsound : Kacian banget!).

Nah, beda kasus dengan muslimah sholihah. Ada atau nggak ada yang mau, dia nggak bakal ambil pusing. Mikirin rumus fisika aja sudah cukup pusing, pake mikir hal lain. Maksudnya, mikirin pacar atau pacaran adalah sesuatu yang nggak penting bagi dirinya. Selain ngabisin waktu dan energi, yang pasti menguras konsentrasi dan emosi.

Kalo kamu jadi cewek sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo adalah sebuah kebanggaan. Kamu bisa tunjukkan kalo jomblo adalah harga diri. Menjadi jomblo bukan karena nggak ada yang mau, tapi kitanya yang emang nggak mau kok sama cowok-cowok anak kecil itu. Lho, kok?

Iya, cowok kalo beraninya cuma pacaran itu namanya masih cowok kecil. Masa’ masih kecil udah pacaran. Huh! Kalo cowok yang udah dewasa, pasti ia nggak berani pacaran, tapi langsung dating ke ortu si cewek dan ngelamar. Merit deh jadinya. Selain menunjukkan tanggung jawab, cowok dewasa tahu kalo pacaran cuma ajang tipu-tipu dan aktivitas berlumur dosa. Hayo…pada berani nggak cowok-cowok kecil itu?



Jomblo tapi sholihah

Jangan pernah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pernah malu disebut nggak laku. Toh, mereka yang berpacaran saat ini belum tentu juga jadi nikah nantinya. Tul nggak? Malah yang banyak adalah putus di tengah jalan, patah hati terus bunuh diri. Hiii, naudzubillah. Atau bisa jadi karena takut dibilang jomblo malah dapat predikat MBA tanpa harus kuliah alias Married By Accident.

Lagipula, cewek kalo mau dipacarin kesannya adalah cewek gampangan. Gampang aja dibohongin, gampang diboncengin, gampang dijamah, dan gampang-gampang yang lain. Idih…nggak asyik banget! Toh, nantinya para cowok itu juga bakal males sama cewek beginian karena udah tahu ‘dalemannya’, mereka pinginnya dapat cewek baik-baik.

Terlepas apa motivasi mereka, yang pasti kamu kudu punya patokan atau standar tersendiri. Kamu nggak mau pacaran karena itu dosa. Kamu memilih jomblo karena itu berpahala dan jauh dari maksiat. Kamu nggak bakal ikut-ikutan pacaran karena takut dibilang jomblo dan nggak gaul. Kamu tetap keukeuh pada pendirian karena muslimah itu orang yang punya prinsip. Itu artinya, kamu selalu punya harga diri atas prinsip yang kamu pegang teguh. Iya nggak seh?

Karena banyak juga mereka yang meskipun sudah menutup aurat dengan kerudung gaul, masih enggan disebut jomblo. Jadilah mereka terlibat affair bernama pacaran sekadar untuk gaya-gayaan. Bener-benar nggak ada bedanya dengan mereka yang nggak pake kerudung. Malah parahnya, masyarakat akan antipati sama muslimah tipe ini. Berkerudung tapi pacaran. Berkeredung tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berkerudung tapi sering berduaan sama cowok dan runtang-runtung nggak jelas juntrungannya. Padahal, kelakuannya yang model begitu itu bisa membuat jelek citra kerudung, imej Islam jadi rusak, dan tentunya doi bikin peluang orang lain untuk menilai dan memukul rata bahwa doi mewakili muslimah. Parah banget!

Intinya, predikat jomblo jauh lebih mulia kalo kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan sholihah kalo itu diniatkan karena Allah semata. Bukankah hidup ini cuma sementara saja? Jadi rugi banget kalo hidup sekali dan itu nggak dibikin berarti. Jadi kalo ada yang rese dengan kamu karena status jomblomu, katakan saja ‘jomblo tapi sholihah, so what gitu loh!’. Hidup jomblo!



Next......
  • MyLog

    TYSN-4

    Banner Sob

    Comments

    Followers