Wah kenapa cahaya kok gak lagi menyinari, jadi gelap dong!! Mang kenapa apa PLN kekurangan suplai bahan bakar buat ngaktifin PLTU or PLTG nya ato mungkin daya di PLTA berkurang karena kemarau yang berkepanjangan, trus-trusan molor gak turun hujan, tanya kenpa ??? Tenang-tenang semua tenang PLN masih beroperasi, hanya saja bukan cahaya atau suplai listrik dari PLN, kan sekarang mulai diadain proyek PLTN
yang kendati sekitar tahun 80-an sempat dianggap tidak pantas diterapkan di Indonesia. Truz cahaya apaan dong?? ( Suara dalam hati mulai bertanya penasaran!! Itu juga kalo yang mbacanya bener-bener merhatiin) Ok coz sebenernye yang akan saya dibahas disini adalah cahaya yang ada dalam diri kita ( wah penghinaan mang disamaain ma kunang-kunang ) yaitu cahaya hati. Pa masih binggung nich??
Mang gak bisa dipungkiri kalo segumpal darah yang ada pada manusia ato yang lebih akrab disebut hati adalah pengatur sikap, pola pemikiran, motivasi, emosi baik yang timbul secara spontan maupun yang sudah terendap menjadi satu paket yang disebut watak bin perilaku. Rasulullah Saw bersabda”Sesungguhnya didalam tubuh manusia terdapat segumpal darah, apabila baik maka baikalah seluruh tubuh. Apabila ia buruk, maka buruk pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati ( HR Bukhari Muslim ) “. Ibarat komputer hati itu sebagai progam komputernya seperti windows ataupun linux, dan hardisk sebagai otak. Coba aja kalo suatu proggam dijangkiti virus, pasti isi dari hardisk akan kacau n rusak kendati gak ngerusak hardware namun bisa ngehancurin sistem-sistem softwarenya dan akibatnnnya macam-macam loh ada yang hilang data-data microsoft wordnya ada yang eror pada control panelnya dan mungkin bisa menyebabkan suatu komputer tersebut secara total gak bisa bekerja alias eror n ujung-ujungnya minta diinstal ulang. Padahal suatu software kan sebagai landasan penghubung data-data yang akan direkam dalam hardisik,ya kalo software nya aja kejangkit virus pasti masukin datanya kehardisk jadi kecau balau.
Kembali ke masalah hati, mungkin bisa dibilang kayak komputer gitu, hanya saja untuk menginstal ulang hati tidaklah semudah menginstal ulang progam komputer. AA Gym juga pernah memberi saran untuk selalu menjaga hati ( keep heart gituu ) lewat sebuah lagu ciptaannya yag berjudul “Jagalah Hati” ( temen-temen pasti pernah denger kan!! ). Sama kayak komputer hati juga banyak virusnya loh mulai dari virus malas, merah jambu, bahkan samapi virus iman kepada Allah, yah gak kalah syereeem ma virus komputer yang sekarang lagi ngetren yaitu virus babad. Hati selain dapat sakit yang karena mungkin kejangkit virus dapat juga mati , namun gak seperti tubuh yang kalo mati akan tampak dengan jelas. Hati yang mati adalah ibarat seorang yang hidup namun bagai bangkai berjalan ( wah bau semua kali ya!! ). Hati yang mati coz adalah hati yang tidak disinari oleh cahaya dan lama-lama cahaya dalam hati itu akan pudar. Ibarat fosfor yang kalo kita sinari dengan cahaya maka dengan sendirinya fosfor tersebut dapat menyimpan cahaya untuk beberapa waktu dan selanjutnya akan padam jika tidak disinari, nah kalo seumpamanya fosfor itu ditutupi suatu benda sehingga gak bisa mendapat cahaya dan akhirnya fosfor itu gak akan bercahaya untuk selamanya ( hehehe binggung pa gak nih ???? ). Yah kalo hati itu adalah penerima cahaya dari Allah SWT baik melalui hidayah yang ditanamakan dalam hati secara langsung maupun melalui petunjuknya dari Al-Qur’an dan Hadist. Namun kalo hati ini terlalu banyak kena virus lama-lama muncul bintik hitam disekitar hati ( eh tapi bukan flek lo apalagi tahi lalat ) yang lama-lama menutupi hati sehingga hati ini gelap tidak bisa menerima cahaya dan akhirnya akan mati ( wah kacau berubah menjadi bangkai berjalan dehh!! ).
Mengetahui Adanya Gangguan pada Sunber Cahaya
Coz sama seperti virus dalam komputer virus-virus hati yang notabanenya sebagai sumber cahaya pada diri juga dapat dideteksi keberadaannya dan dapat dihilangakan, tapi caranya beda ama komputer yang harus mendeteksi virusnya melalui antivirus n harus diilangin juga pake antivirus yang tentunya udah diupdate terbaru, ya maklum buat jaga-jaga kali aja virus yang nyerang virus terbaru. Nah demikian pula dengan hati yang gak kalah banyak dan rumit virus-virus yang harus dihadapi. Apalagi designer virusnya ahli betul dalam mengetahui kelemahan manusia dan juga hatinya yaitu setan. Sebab setan selalu berada disisi manusia jadi kalo pengetahuan manusia semakin bertambah maka setan yang ada disisinyapun akan menjadi semakin pinter ( wuih bener-bener tukang bajak pengetahuan niiiiiiih ). Pada dasarnya untuk menghindari dan melawan virus hati ini adalah dengan menundukkan hawa nafsu sebab setan menyerang manusia melalui hawa nafsunya ( kyaaaa ciat ciat he 3x mang setan jago perang juga ya ??? ). Oleh karena itu Allah SWT senantiasa memerintah manusia untuk menundukan hawa nafsunya, misalnya dengan ibadah puasa, dengan menikah, dengan bersabar, de el el.
Trus apa hawa nafsu gak boleh ngambil andil nih dalam kehidupan? ya enggak lah coz kan sudah dibilangin menundukkan bukan mematikan, lagian kalo mang gak ada hawa nafsu maka manusia kan punah dari peradaban ini, satu misal manusia gak punya hawa nafsu buat makan pasti semua akan kelaparan dan akan mati, atau gak punya nafsu untuk kepengen maju mungkin lama kelamaan manusia akan kalah bersaing dengan makhluk lain. Sebenernye dalam mengetahui ada atau tidaknya penyakit dalam diri hanyalah kemauan dari diri kita sendiri yang untuk mengetahui sejauh mana virus hati menyerang kita, namun kebanyakan dari temen-temen biasa mendeteksi virusnya melalui hal-hal berikut :
1. Bertanya kepada para ulama atau ahli ilmu mengenai masalah hati
Hal ini saya rasa perlu karena sama seperti penyakit badan kita juga pergi kedokter kan untuk mengetahui penyakit apa yang kita derita kemudian kita diberi resep agar dapat sembuh dari penyakti tersebut yah sama kayak penyakit hati caranya nanya ke yang ahli lalu kita minta batuannya agar bisa disembuhkan.
2. Minta nasehat kepada temen yang jujur
Temen jujur, dapet dipercaya ( wah sapa sih yang gak mau dapet temen kayak gituuu ?? ). Jika kita minta nasehat kepada temen yang kayak gini Insya Allah kita dapat mengetahui penyakit hati kita, Amirul Mukminin Umar bin Khattab pernah berkata, “Semoga Allah merahmati seseorang yang mau menunjukkan aib kami kepada kami”.
3. Mengambil Penuturan dari musuh
Mungkin gak enak kali ya kalo kita punya musuh tapi seandainya kita memang punya musuh justru itulah saat adanya seorang yang ikhlas menunjukkan virus hati pada kita, walaupun kata yang dikeluarkan musuh sangat tidak menyenangakan hati.
Penyebab cahaya dalam diri tidak menyinari
Khan dah jelas tadi penyebabnya virus-virus hati yang dibuat oleh setan !!!yup tuh adalah suatu analisa yang benar tapi perlu diketahui untuk dapat menuju kehati virus-virus tersebut harus melalui berbagai hal, nah hal yang biasa dilalui adalah lewat hal berikut :
1. Banyak Makan
Gak usah dipungkiri kalo makan emang kebutuhan manusia yang mutlak, bisa-bisa kalo kita gak makan malaikat Izrail malah datang buat ngebawa kita mengahadap Allah. Coz Rasulullah Saw mengiinggatkan pada kita untuk makan saat lapar dan berhenti sebelum kenyang, sebab jika makan terlalu kenyang dapat membuat badan menjadi malas ( nah inilah mungkin salah satu virus berbaya yang sering menyerang manusia ), ato bisa jadi karena makan terlalu banyak menjadi berbagai sumber penyakit. Karena saat kita makan hati terus menerus melakukan penetralan racun yang terkandung dalam makanan, hati juga hanya bekerja pada kemampuan tertentu, saat racun yang ada dalam tubuh melebihi kapasitas hati kemampuan hati untuk menetralisir bisa jadi bukan nikmat yang kita dapat dari makan malah penyakit.Oleh karena itu Allah memerintahkan kepada kita untuk puasa. Selain sebagai ibadah, melatih hawa nafsu, puasa juga ternyata berfungsi sebagai sarana untuk mentralisi kadar asam lambung dalam tubuh dan juga sebagai proses detoksinasi dalam hati.
2. Banyak Bicara
Fren hati-hati biasanya nih orang yang banyak bicara tuh apalagi bicarnya gak manfaat malah dibenci orang lain. Apalagi yang namanya lidah itu gak bertulang pedangpun bisa dikalahkan dengan lidah. Sebab hanya dengan lidah dapat terjadi pertumpahan darah, peperangan, bahkan kerusuhan antar desa yang akhir-akhir ini marak karena dipicu masalah sepele.
3. Salah Pergaulan
Seperti yang dibilang Rasul kalo orang yang bergaul ma tukang minyak pasti bau wangi tapi kalo bergaul ma tukang pandai besi pasti bau arang. Pergaulan memang memberikan dampak yang besar pada diri utamanya dengan watak kita, nah jalan setan yang paling ampuh adalah melalui pergaulan, yah maklum sebab setan kan ada banyak dari golongan jin dan manusia. Cilaknya kalo kita bertemen ma golongan setan dari manusia selain hati kita akan pudar cahayanya bisa-bisa malah kita sendiri yang ikut nyetan!!!.
4. Bergantung kepada selain Allah
Ini adalah faktor terbesar perusak hati. Jadi hati-hati aja ya kalo seumpamanya kita udah mulai jauh ama Allah. Terkadang saat ditimpa musibah kita jarang beristigfar, saat menerima nikmat kita jarang bersyukur, melalui hal-hal seperti inilah setan menyusupkan virus-virusnya agar kita senantiasa lalai dan lupa kepada Allah SWT. "Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka" (Yasin: 74-75). Keadaan sebagian manusia tertindas tapi terpuji, sebagian lagi tercela tetapi menang, sebagian lagi terpuji dan menang. Orang yang bergantung kepada selain Allah (musyrik) maka dia mendapatkan keadaan yang paling buruk, yakni tidak terpuji dan tidak ada yang menolong.
Coz sebenernya masih banyak loh cara-cara virus hati untuk menggelapkan cahaya hati kita dengan Allah, karena terbatasnya halaman buletin ini ya saya mohon maaf. Tapi satu hal yang terpenting untuk membuat agar hati tidak kehilangan cahayanya adalah selalu mendekatkan diri kepada Allah dan menundukkan hawa nafsu. Ingat jagalah hati jangan kau kotori jagalah hati lentera hidup ini.[ rev by Dnf ]
Fomasi Corner
Hati-hati bawa hati. Karena hati penentu hidup ini
Ayatnyeeeeeee
Artinya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. ( QS Ar-Rad : 27 )
Mbak natar no telp di kritik saran yang punya dita diganti jadi no 085233531355 oj lali yo mbakki pentinr bgt nek lali ak engko dibunuh koncoku he3x
Kamis tak ambil yo mbak trims
Saturday, 10 October 2009
Audisi ke Surga
Jujur aja nih, kita pantas bertanya: baik dalam hati maupun teriak keras. Bertanya tentang apa? Lengkapnya bukan bertanya aja, tapi sekaligus mempertanyakan. Kita harus bertanya: mengapa begitu banyak temen-temen remaja yang berebut ambil jatah untuk audisi jadi seleb? Lihat aja, bukan cuma rela berkeringat dan pegal menunggu giliran audisi KDI dan Indonesian Idol, tapi begitu semangat ketika memamerkan keahliannya menyanyi—dan tentu bergaya—di depan juri audisi acara tersebut.
Pertanyaan tadi kudu terjawab. Nah, sebelum menjawab pertanyaan, saya justru ingin mempertanyakan: mengapa audisi semacam itu yang ditumbuh-suburkan oleh pengelola media massa? Mengapa bukan audisi untuk berlomba dalam menggapai kehidupan akhirat? Kalo pun ada audisi dai (Dai TPI dan Pildacil), sayangnya nggak jauh beda dengan audisi untuk kepentingan entertainment semata. Cuma bungkusnya doang pake label islami. Ciloko!
Sobat muda muslim, sungguh kita prihatin banget dengan kondisi seperti ini. Sekadar membandingkan aja dengan ‘perlombaan’ teman-temen remaja untuk ‘audisi’ menjadi bintang di akhirat kelak. Mereka yang ikut audisi KDI dan Indonesian Idol mau aja untuk ngantri, berjubel ribuan orang. Buktinya bisa kamu saksikan berita tentang hal itu di televisi dan baca di media cetak. Iya kan? Tapi nih, untuk menghadiri majelis-majelis ilmu dan taushiyah yang hadir untuk ‘audisi’ biar kepilih sama Allah Swt. untuk mendapatkan bekal amal baik di akhirat jumlahnya nggak seheboh audisi KDI dan Indonesian Idol. Iya nggak seh?
Terus nih, sungguh kita juga kecewa kok media massa (baik cetak maupun elektronik) seolah bersatu padu untuk memeriahkan audisi macam KDI dan Indonesian Idol. Iklannya gede-gedean, dan publikasinya sangat sering. Wajar dong kalo kemudian opini tersebut mendominasi informasi dan bikin temen-temen remaja kepengen banget ikutan untuk kepilih. Ya, siapa tahu jadi seleb dadakan di bidang olah vokal dan olah tubuh—maksudnya menari yang seringnya kalo di KDI jadi murahan karena memamerkan auratnya. Halah!
Karena dunia lebih menyilaukan
Nah, ini jawaban buat pertanyaan pertama yang ditulis di awal obrolan kita tadi. Dunia memang menyilaukan. Perhiasanya rata-rata menyilaukan dan mempesonakan: harta, tahta, dan tentu ketenaran. Siapa sih yang nggak butuh duit? Siapa pula yang nggak mau punya jabatan? Ehm, angkat tangan kalo ada di antaramu ingin terkenal. Semua orang pasti ingin memiliki harta-tahta-popularitas. Iya kan? Apalagi sekarang ada jalan pintas untuk mendapatkannya. Jadinya ya, sangat wajar kalo ribuan teman remaja berlomba ikutan audisi untuk jadi seleb dadakan. So, niat udah kuat dan kesempatan dapat. Klop.
Boys and girls, dunia memang gemerlap. Siapa pun pasti terpesona dengan indah dan kerlap-kerlipnya kehidupan dunia. Ini memang fakta. But, apa karena terpesona dunia, lalu kita nggak pilih-pilih hiasan dunia itu? Boleh kok menikmati gemerlapnya dunia, asalkan hal itu sesuai tuntunan ajaran Islam, agama yang kita peluk dan jadikan cara hidup. So, nggak asal ambil aja. Kita punya patokan untuk menentukan baik-buruk, terpuji-tercela dan halal atau haram suatu perbuatan menurut ajaran Islam. Bukan ajaran yang lain. Setuju kan?
Nah, itu artinya dalam hidup ini kita kudu punya pegangan. Kita wajib tahu dan sadar dari mana kita berasal, mau ngapain di dunia ini, dan akan ke mana setelah ‘pensiun’ dari dunia ini. Kita berasal dari Allah Swt. Untuk apa di dunia? Untuk ibadah kepadaNya. Lalu, akan ke mana setelah mati dan ninggalin dunia ini? Jawabannya, kita akan kembali kepada Allah Swt. Makanya nih, di keranda jenazah biasanya ditutup kain hijau bertuliskan: “Innalillaahi wa inna ilaihi roojiuun” (sesungguhnya kami berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya). Yup, alasan yang paling masuk akal kenapa di keranda jenazah mesti ditulis seperti itu adalah untuk ngingetin kita yang masih hidup, bahwa suatu saat kalo ajalnya udah datang pasti menyusul teman atau saudara yang sedang diusung jenazahnya saat itu. Iya nggak sih? Kecuali kalo di tempatmu ada orang iseng dengan mengganti tulisan di keranda jenazah dengan tulisan: “Yang tidak berkepentingan dilarang masuk!” Walah!
Oke, setelah kita tahu dan sadar soal kehidupan ini, lalu apa yang akan kita lakukan? Tentu, berlomba untuk memperbanyak amal shalih buat bekal di akhirat kelak dong ya. Itu alasan yang paling logis, Bro. So, wajar dong kalo kemudian kita berusaha untuk berlomba dalam kebaikan demi dapetin predikat penghuni surga. Perlu audisi atau tes juga kelihatannya ya. Surga emang nggak gampang untuk diraih, perlu ketahanan, kesabaran, semangat, dan yang utama adalah keimanan. Kita siap kan?
Provokasi media massa
Bro, publikasi acara audisi macam KDI dan Indonesian Idol emang gencar banget. Terutama tentu disyiarkan terus oleh jaringan media yang menjadi penggagas acara tersebut. MNC (Media Nusantara Citra) yang menaungi stasiun televisi TPI, RCTI, dan Global TV, juga menggurita di media cetak dengan bendera koran Seputar Indonesia dan Tabloid Genie terus mengobarkan opini dua program audisi tersebut.
Nah, karena disebarkan via media massa, maka jelas ada pengaruhnya dong ya. Baik bagi masyarakat secara umum maupun individu. Budaya massa bisa saja tercipta. So, kalo terus ditayangkan program pencarian bakat macam KDI dan Indonesian Idol (dan juga sejenisnya) ini, maka akan membekas dalam benak pemirsanya dan sangat mungkin menjadi budaya mereka. Ini bisa dibuktikan dengan teori agenda seting yang digagas Maxwell McCombs dan Donald Shaw. Menurut dua pakar komunikasi ini, teori agenda seting bisa diliat dari seringnya media massa ‘memilihkan’ topik tertentu bagi pemirsa atau pembaca sehingga mereka menjadi akrab dengan topik tersebut dan dianggap penting. Iya kan, Bro? Rasakan buktinya saat ini ya.
Sobat muda, provokasi media massa juga bakalan menumbuhkan pengaruh kepada individu dan juga masyarakat yang mengakses opininya. Satu lagi teori yang bisa membuktikan pengaruh dari media massa adalah teori Spiral of Silence alias spiral kebisuan yang dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman bisa menjadi dalil bahwa media massa cukup berpengaruh kepada masyarakat pemirsa atau pembacanya.
Menurut teori ini, individu pada umumnya berusaha untuk menghindari isolasi, dalam arti sendirian mempertahankan sikap atau keyakinan tertentu. Itu sebabnya, orang akan mengamati lingkungannya untuk mempelajari pandangan-pandangan mana yang bertahan dan mendapatkan dukungan dan mana yang tidak dominan atau populer. Jika orang merasakan bahwa pandangannya termasuk di antara yang tidak dominan atau tidak populer, maka ia cenderung kurang berani mengekspresikannya, karena adanya ketakutan akan isolasi tersebut.
Maka nih, jika media massa secara agresif dan getol--apalagi itu dilakukan oleh banyak media--dalam nampilin gambaran tentang prestasi remaja dalam KDI dan Indonesian Idol atau ajang sejenis, maka pemirsa atau pembaca yang tak ingin terisolasi dari lingkungannya akan melakukan perintah seperti “apa kata media”. Itulah alasan mengapa banyak bacaan dan visualisasi tentang audisi jadi seleb, dalam kasus ini, menjadi terus marak dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat secara luas. Meski tentu tak semua bisa terpengaruh memang. Tapi kita melihat dampak yang nyata secara umum. Betul?
Siapa mau ikut ke surga?
Jika ditanyakan kepada manusia, pilih surga atau neraka? Dengan pengetahuan yang seadanya, dengan bekal info minim bahwa surga itu nikmat dan neraka itu menyeramkan, maka dengan lantang pasti akan memilih surga. Tapi, tahukah kita bahwa jalan menuju surga itu sulit dan jalan menuju neraka begitu mudah?
Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Ketika Allah menciptakan surga, Dia berfirman kepada Jibril, ‘Pergi dan lihatlah (surga itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. Jibril kembali seraya berkata, ‘Tuhanku, demi keperkasaanMu, tidak seorang pun mendengar (tentang surga itu) kecuali dia (ingin) memasukinya’. Kemudian Allah Swt. mengelilingi (surga) dengan kesulitan-kesulitan (untuk mencapainya) dan berfirman kepada Jibril, ‘Wahai Jibril! Pergi (lalu) lihatlah (surga itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, ‘Tuhanku, demi keperkasaanMu, sungguh aku khawatir tidak seorang pun yang (dapat) memasukinya’.”
Rasulullah saw. juga bersabda: “Tatkala Allah Ta’ala menciptakan neraka, Dia berfirman, ‘Wahai Jibril! Pergi (lalu) lihatlah (neraka itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, ‘Wahai Tuhanku, demi keperkasaanMu dan kemuliaanMu, tidak seorang pun mendengar (tentang neraka itu) kecuai ia tidak berkeinginan untuk memasukinya’. Kemudian Allah Swt. mengelilingi (neraka itu) dengan keinginan-keinginan syahwati dan berfirman kepada Jibril, ‘Wahai Jibril! Pergi dan lihatlah neraka itu’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. Kemudian ia kembali dan berkata, ‘Wahai Tuhanku, demi keperkasaanMu dan kemualiaanMu, sungguh aku khawatir bahwa tidak akan tersisa seorang pun kecuali akan memasukinya’.” (Dalam penjelasan kitab Sunan Abu Daud, hlm. 13-14)
Surga dan neraka adalah ibarat ganjaran bagi orang yang lulus ujian (semacam audisi kali ye?). Oya, perlu ditekankan bahwa hidup di dunia ini setiap detiknya adalah ujian. Ujian yang hasilnya akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah kelak di akhirat. Itu artinya, setiap hari kita harus menerima dan mengatasi berbagai ujian yang diberikan oleh Allah Swt.
Jangan bayangkan bahwa ujian selalu hal yang pasti sulit dan menderita, adakalanya ujian yang diberikan Allah Ta’ala justru kita rasakan sebagai nikmat dan istimewa. Memang benar, ujian yang mendera kita berupa rasa sakit dan kesulitan ekonomi seringkali membuat kita harus lebih banyak bersabar dan berdoa untuk tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kekafiran. Tapi, jangan bayangkan pula jika kita diberikan kesehatan, kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan adalah semata sebagai kebahagiaan, karena sejatinya itu juga merupakan ujian dari Allah. Sebab, siapa tahu sehat tapi nggak bersyukur kepada Allah Swt., kaya raya tapi kikir, tenar tapi merendahkan orang lain, berkuasa tapi dzalim. Iya nggak?
Ini kian meneguhkan bahwa selama kita masih hidup, ujian akan datang menghampiri kita selama itu. Karena hidup itu sendiri adalah ujian. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan menjadikan kehidupan ini lebih bermakna berlandaskan keimanan kepada Allah Swt. Dzat yang telah menciptakan kita dan seluruh alam ini, termasuk surga dan neraka.
Oke Bro, pertanyaannya sekarang, ada yang mau ikut audisi penghuni surga nggak? Kalu mau ikut audisi penghuni surga, maka dalam setiap kehidupan kita pastikan selalu dalam koridor syariat Allah Swt., yakni Islam. Bukan yang lain. Landasan berbuat kita adalah halal-haram menurut ajaran Islam. Penilaian kita terhadap suatu perbuatan apakah baik-buruk atau terpuji-tercela juga wajib mengikuti aturan baku yang ditetapkan Islam. Bukan yang lain. Tolong dicatet baik-baik ye. Makasih.
Sobat, syaratnya insya Allah mudah saja kalo pengen berhasil dalam ‘audisi’ penghuni surga. Pertama, beriman kepada Allah Swt. Kedua, berilmu agar bisa membedakan mana yang salah dan benar—baik ilmu agama maupun ilmu umum. Ketiga, beramal baik. Keempat berdakwah, yakni melakukan amar ma’ruf (mengajak kebaikan) sekaligus nahyi munkar (melarang kemungkaran) baik melalui lisan maupun tulisan dan sarana lainnya. Kelima, ikhlas dalam setiap amal kita. Itu aja dulu ye.
Oke deh, semoga kita menjadi para penghuni surgaNya kelak. Yuk, mulai sekarang kita cintai Islam, pelajari, pahami, dan amalkan ajarannya. Jangan lupa semarakkan syiarnya dengan dakwah. Jangan kalah dengan syiar yang miskin manfaat apalagi syiar yang udah jelas maksiat kepada Allah Swt. Hidup kita di dunia ini cuma sekali dan sementara pula, Bro. Waktu kita makin berkurang setiap detik, maka mari berlomba dalam kebaikan untuk mendapat ridhoNya. Siap?
Pertanyaan tadi kudu terjawab. Nah, sebelum menjawab pertanyaan, saya justru ingin mempertanyakan: mengapa audisi semacam itu yang ditumbuh-suburkan oleh pengelola media massa? Mengapa bukan audisi untuk berlomba dalam menggapai kehidupan akhirat? Kalo pun ada audisi dai (Dai TPI dan Pildacil), sayangnya nggak jauh beda dengan audisi untuk kepentingan entertainment semata. Cuma bungkusnya doang pake label islami. Ciloko!
Sobat muda muslim, sungguh kita prihatin banget dengan kondisi seperti ini. Sekadar membandingkan aja dengan ‘perlombaan’ teman-temen remaja untuk ‘audisi’ menjadi bintang di akhirat kelak. Mereka yang ikut audisi KDI dan Indonesian Idol mau aja untuk ngantri, berjubel ribuan orang. Buktinya bisa kamu saksikan berita tentang hal itu di televisi dan baca di media cetak. Iya kan? Tapi nih, untuk menghadiri majelis-majelis ilmu dan taushiyah yang hadir untuk ‘audisi’ biar kepilih sama Allah Swt. untuk mendapatkan bekal amal baik di akhirat jumlahnya nggak seheboh audisi KDI dan Indonesian Idol. Iya nggak seh?
Terus nih, sungguh kita juga kecewa kok media massa (baik cetak maupun elektronik) seolah bersatu padu untuk memeriahkan audisi macam KDI dan Indonesian Idol. Iklannya gede-gedean, dan publikasinya sangat sering. Wajar dong kalo kemudian opini tersebut mendominasi informasi dan bikin temen-temen remaja kepengen banget ikutan untuk kepilih. Ya, siapa tahu jadi seleb dadakan di bidang olah vokal dan olah tubuh—maksudnya menari yang seringnya kalo di KDI jadi murahan karena memamerkan auratnya. Halah!
Karena dunia lebih menyilaukan
Nah, ini jawaban buat pertanyaan pertama yang ditulis di awal obrolan kita tadi. Dunia memang menyilaukan. Perhiasanya rata-rata menyilaukan dan mempesonakan: harta, tahta, dan tentu ketenaran. Siapa sih yang nggak butuh duit? Siapa pula yang nggak mau punya jabatan? Ehm, angkat tangan kalo ada di antaramu ingin terkenal. Semua orang pasti ingin memiliki harta-tahta-popularitas. Iya kan? Apalagi sekarang ada jalan pintas untuk mendapatkannya. Jadinya ya, sangat wajar kalo ribuan teman remaja berlomba ikutan audisi untuk jadi seleb dadakan. So, niat udah kuat dan kesempatan dapat. Klop.
Boys and girls, dunia memang gemerlap. Siapa pun pasti terpesona dengan indah dan kerlap-kerlipnya kehidupan dunia. Ini memang fakta. But, apa karena terpesona dunia, lalu kita nggak pilih-pilih hiasan dunia itu? Boleh kok menikmati gemerlapnya dunia, asalkan hal itu sesuai tuntunan ajaran Islam, agama yang kita peluk dan jadikan cara hidup. So, nggak asal ambil aja. Kita punya patokan untuk menentukan baik-buruk, terpuji-tercela dan halal atau haram suatu perbuatan menurut ajaran Islam. Bukan ajaran yang lain. Setuju kan?
Nah, itu artinya dalam hidup ini kita kudu punya pegangan. Kita wajib tahu dan sadar dari mana kita berasal, mau ngapain di dunia ini, dan akan ke mana setelah ‘pensiun’ dari dunia ini. Kita berasal dari Allah Swt. Untuk apa di dunia? Untuk ibadah kepadaNya. Lalu, akan ke mana setelah mati dan ninggalin dunia ini? Jawabannya, kita akan kembali kepada Allah Swt. Makanya nih, di keranda jenazah biasanya ditutup kain hijau bertuliskan: “Innalillaahi wa inna ilaihi roojiuun” (sesungguhnya kami berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya). Yup, alasan yang paling masuk akal kenapa di keranda jenazah mesti ditulis seperti itu adalah untuk ngingetin kita yang masih hidup, bahwa suatu saat kalo ajalnya udah datang pasti menyusul teman atau saudara yang sedang diusung jenazahnya saat itu. Iya nggak sih? Kecuali kalo di tempatmu ada orang iseng dengan mengganti tulisan di keranda jenazah dengan tulisan: “Yang tidak berkepentingan dilarang masuk!” Walah!
Oke, setelah kita tahu dan sadar soal kehidupan ini, lalu apa yang akan kita lakukan? Tentu, berlomba untuk memperbanyak amal shalih buat bekal di akhirat kelak dong ya. Itu alasan yang paling logis, Bro. So, wajar dong kalo kemudian kita berusaha untuk berlomba dalam kebaikan demi dapetin predikat penghuni surga. Perlu audisi atau tes juga kelihatannya ya. Surga emang nggak gampang untuk diraih, perlu ketahanan, kesabaran, semangat, dan yang utama adalah keimanan. Kita siap kan?
Provokasi media massa
Bro, publikasi acara audisi macam KDI dan Indonesian Idol emang gencar banget. Terutama tentu disyiarkan terus oleh jaringan media yang menjadi penggagas acara tersebut. MNC (Media Nusantara Citra) yang menaungi stasiun televisi TPI, RCTI, dan Global TV, juga menggurita di media cetak dengan bendera koran Seputar Indonesia dan Tabloid Genie terus mengobarkan opini dua program audisi tersebut.
Nah, karena disebarkan via media massa, maka jelas ada pengaruhnya dong ya. Baik bagi masyarakat secara umum maupun individu. Budaya massa bisa saja tercipta. So, kalo terus ditayangkan program pencarian bakat macam KDI dan Indonesian Idol (dan juga sejenisnya) ini, maka akan membekas dalam benak pemirsanya dan sangat mungkin menjadi budaya mereka. Ini bisa dibuktikan dengan teori agenda seting yang digagas Maxwell McCombs dan Donald Shaw. Menurut dua pakar komunikasi ini, teori agenda seting bisa diliat dari seringnya media massa ‘memilihkan’ topik tertentu bagi pemirsa atau pembaca sehingga mereka menjadi akrab dengan topik tersebut dan dianggap penting. Iya kan, Bro? Rasakan buktinya saat ini ya.
Sobat muda, provokasi media massa juga bakalan menumbuhkan pengaruh kepada individu dan juga masyarakat yang mengakses opininya. Satu lagi teori yang bisa membuktikan pengaruh dari media massa adalah teori Spiral of Silence alias spiral kebisuan yang dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman bisa menjadi dalil bahwa media massa cukup berpengaruh kepada masyarakat pemirsa atau pembacanya.
Menurut teori ini, individu pada umumnya berusaha untuk menghindari isolasi, dalam arti sendirian mempertahankan sikap atau keyakinan tertentu. Itu sebabnya, orang akan mengamati lingkungannya untuk mempelajari pandangan-pandangan mana yang bertahan dan mendapatkan dukungan dan mana yang tidak dominan atau populer. Jika orang merasakan bahwa pandangannya termasuk di antara yang tidak dominan atau tidak populer, maka ia cenderung kurang berani mengekspresikannya, karena adanya ketakutan akan isolasi tersebut.
Maka nih, jika media massa secara agresif dan getol--apalagi itu dilakukan oleh banyak media--dalam nampilin gambaran tentang prestasi remaja dalam KDI dan Indonesian Idol atau ajang sejenis, maka pemirsa atau pembaca yang tak ingin terisolasi dari lingkungannya akan melakukan perintah seperti “apa kata media”. Itulah alasan mengapa banyak bacaan dan visualisasi tentang audisi jadi seleb, dalam kasus ini, menjadi terus marak dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat secara luas. Meski tentu tak semua bisa terpengaruh memang. Tapi kita melihat dampak yang nyata secara umum. Betul?
Siapa mau ikut ke surga?
Jika ditanyakan kepada manusia, pilih surga atau neraka? Dengan pengetahuan yang seadanya, dengan bekal info minim bahwa surga itu nikmat dan neraka itu menyeramkan, maka dengan lantang pasti akan memilih surga. Tapi, tahukah kita bahwa jalan menuju surga itu sulit dan jalan menuju neraka begitu mudah?
Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Ketika Allah menciptakan surga, Dia berfirman kepada Jibril, ‘Pergi dan lihatlah (surga itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. Jibril kembali seraya berkata, ‘Tuhanku, demi keperkasaanMu, tidak seorang pun mendengar (tentang surga itu) kecuali dia (ingin) memasukinya’. Kemudian Allah Swt. mengelilingi (surga) dengan kesulitan-kesulitan (untuk mencapainya) dan berfirman kepada Jibril, ‘Wahai Jibril! Pergi (lalu) lihatlah (surga itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, ‘Tuhanku, demi keperkasaanMu, sungguh aku khawatir tidak seorang pun yang (dapat) memasukinya’.”
Rasulullah saw. juga bersabda: “Tatkala Allah Ta’ala menciptakan neraka, Dia berfirman, ‘Wahai Jibril! Pergi (lalu) lihatlah (neraka itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, ‘Wahai Tuhanku, demi keperkasaanMu dan kemuliaanMu, tidak seorang pun mendengar (tentang neraka itu) kecuai ia tidak berkeinginan untuk memasukinya’. Kemudian Allah Swt. mengelilingi (neraka itu) dengan keinginan-keinginan syahwati dan berfirman kepada Jibril, ‘Wahai Jibril! Pergi dan lihatlah neraka itu’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. Kemudian ia kembali dan berkata, ‘Wahai Tuhanku, demi keperkasaanMu dan kemualiaanMu, sungguh aku khawatir bahwa tidak akan tersisa seorang pun kecuali akan memasukinya’.” (Dalam penjelasan kitab Sunan Abu Daud, hlm. 13-14)
Surga dan neraka adalah ibarat ganjaran bagi orang yang lulus ujian (semacam audisi kali ye?). Oya, perlu ditekankan bahwa hidup di dunia ini setiap detiknya adalah ujian. Ujian yang hasilnya akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah kelak di akhirat. Itu artinya, setiap hari kita harus menerima dan mengatasi berbagai ujian yang diberikan oleh Allah Swt.
Jangan bayangkan bahwa ujian selalu hal yang pasti sulit dan menderita, adakalanya ujian yang diberikan Allah Ta’ala justru kita rasakan sebagai nikmat dan istimewa. Memang benar, ujian yang mendera kita berupa rasa sakit dan kesulitan ekonomi seringkali membuat kita harus lebih banyak bersabar dan berdoa untuk tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kekafiran. Tapi, jangan bayangkan pula jika kita diberikan kesehatan, kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan adalah semata sebagai kebahagiaan, karena sejatinya itu juga merupakan ujian dari Allah. Sebab, siapa tahu sehat tapi nggak bersyukur kepada Allah Swt., kaya raya tapi kikir, tenar tapi merendahkan orang lain, berkuasa tapi dzalim. Iya nggak?
Ini kian meneguhkan bahwa selama kita masih hidup, ujian akan datang menghampiri kita selama itu. Karena hidup itu sendiri adalah ujian. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan menjadikan kehidupan ini lebih bermakna berlandaskan keimanan kepada Allah Swt. Dzat yang telah menciptakan kita dan seluruh alam ini, termasuk surga dan neraka.
Oke Bro, pertanyaannya sekarang, ada yang mau ikut audisi penghuni surga nggak? Kalu mau ikut audisi penghuni surga, maka dalam setiap kehidupan kita pastikan selalu dalam koridor syariat Allah Swt., yakni Islam. Bukan yang lain. Landasan berbuat kita adalah halal-haram menurut ajaran Islam. Penilaian kita terhadap suatu perbuatan apakah baik-buruk atau terpuji-tercela juga wajib mengikuti aturan baku yang ditetapkan Islam. Bukan yang lain. Tolong dicatet baik-baik ye. Makasih.
Sobat, syaratnya insya Allah mudah saja kalo pengen berhasil dalam ‘audisi’ penghuni surga. Pertama, beriman kepada Allah Swt. Kedua, berilmu agar bisa membedakan mana yang salah dan benar—baik ilmu agama maupun ilmu umum. Ketiga, beramal baik. Keempat berdakwah, yakni melakukan amar ma’ruf (mengajak kebaikan) sekaligus nahyi munkar (melarang kemungkaran) baik melalui lisan maupun tulisan dan sarana lainnya. Kelima, ikhlas dalam setiap amal kita. Itu aja dulu ye.
Oke deh, semoga kita menjadi para penghuni surgaNya kelak. Yuk, mulai sekarang kita cintai Islam, pelajari, pahami, dan amalkan ajarannya. Jangan lupa semarakkan syiarnya dengan dakwah. Jangan kalah dengan syiar yang miskin manfaat apalagi syiar yang udah jelas maksiat kepada Allah Swt. Hidup kita di dunia ini cuma sekali dan sementara pula, Bro. Waktu kita makin berkurang setiap detik, maka mari berlomba dalam kebaikan untuk mendapat ridhoNya. Siap?
Agamaku, Agamamu...
Andai saja semua agama itu sama, maka tak ada yang namanya perbedaan. Andai saja semua agama itu benar, tak perlu ada yang ngotot ingin benar sendiri. Andai saja semua agama itu menyembah Tuhan yang sama, nggak perlu ada pertumpahan darah atas nama agama. Andai saja semua agama itu menuju ke jalan yang sama, tak perlu ada kitab suci yang berbeda. Tapi fakta dan sejatinya memang berbeda kok. Justru pertanyaan saya: kenapa harus dipaksakan untuk disamakan?
Sayangnya, sekarang banyak usaha-usaha yang menjurus ke arah sana dengan alasan perdamaian dunia. Karena menurut para penggagasnya, seluruh agama akarnya satu, yakni dari sang pencipta, sehingga mereka berdalil: “Kenapa harus berbeda? Berbeda itu bikin konflik dan itu sangat berbahaya!”
Tapi yang jelas, kalo kita mau berpikir lebih dalam lagi (gali sumur kali!), kita justru akan menemukan bahwa masing-masing agama memang beda. Beda banget. Bahkan bukan hanya beda, tapi juga bertentangan, dan bahkan saling menentang satu sama lain.
Itu sebabnya, tentu nggak bisa mendefinisikan atau membuat pernyataan yang cuma berdasarkan logika dan hawa nafsu kita. Tapi kebenaran adalah muncul dari yang membuat kebenaran itu sendiri, yakni pencipta kita, Allah Swt. Karena kalo kebenaran diserahkan kepada masing-masing manusia, maka yang muncul bukan kebenaran, tapi pembenaran. Udah gitu miskin makna dan kaya dengan salah persepsi.
Sobat muda muslim, ngomongin soal agama kata sebagian kalangan dianggap sensitif. Saking sensanifnya, eh, sensitifnya maka kita nggak boleh ngomongin agama secara vulgar di tempat umum. Misalnya, kamu nanya sama teman kamu di sekolah dalam forum umum: “Agama kamu apa?” Wuih, kayaknya kita dianggap arogan atau sok, atau dicap sebagai orang yang melontarkan pertanyaaan dengan nada sentimen atau tendensius serta SARA dan macam-macam pikiran lainnya.
Kenapa? Karena kita terbiasa menabukan hal tersebut. Dianggap bahwa agama adalah urusan masing-masing individu. Nggak boleh ada individu lain yang mempertanyakan dan mempersoalkan status agama seseorang. Alasannya, kita menjunjung kebersamaan. Jadi jangan heran pula kalo kemudian muncul istilah toleransi, anak bangsa, dialog lintas agama dan iman, dan lain sejenisnya untuk mengkampanyekan tentang pentingnya persamaan. Padahal jelas sangat berbeda jauh. Wong dasarnya juga beda kok. Jadi apa yang mau disamakan? Betul ndak? Semoga kamu bisa memahaminya.
Dalam tulisan di sampul depan buku Psikologi Agama karya Kang Jalal, panggilan akrab Jalaluddin Rakhmat, dituliskan bahwa agama adalah kenyataan terdekat dan misteri terjauh. Begitu dekat: ia senantiasa hadir dalam kehidupan kita sehari-hari—di rumah, kantor, media, pasar, di mana saja. Begitu misterius: ia menampakkan wajah-wajah yang sering tampak berlawanan—memotivasi kekerasan tanpa belas atau pengabdian tanpa batas; mengilhami pencarian ilmu tertinggi atau menyuburkan takhayul dan superstisi (ketakhayulan); menciptakan gerakan massa paling kolosal atau menyingkap misteri ruhani paling personal; memekikkan perang paling keji atau menebarkan kedamaian paling hakiki. (Mizan, 2003)
Nah, karena itulah barangkali ada orang yang merasa bingung dengan agama, mulai menghindarinya dan mengajarkan atheisme. Maka, nggak usah heran kalo Darwin, Marx, Freud membunuh Tuhan dan Nietzsche turun dari bukit, menyanyikan lagu Zarathusta: Gott is gestorben (alias Tuhan sudah mati) (Psikologi Agama, hlm. 64)
Sobat muda muslim, karena saat ini banyak kaum kaum muslimin yang mulai kendor ikatannya dengan ajaran Islam, ada pula yang bahkan sudah melawan setiap ajaran yang ada dalam Islam, juga banyak yang berupaya menyamakan Islam dengan agama yang lain, maka saya merasa perlu untuk menjelaskan (semoga saja mencerahkan), tentang masalah ini. Saya ingin menegaskan bahwa Islam emang beda dengan agama yang lain. Jadi, nggak bisa pula keyakinan kita digeser-geser dan dipindah-pindah ke tempat lain (digeser-geser? Emangnya pot bunga?)
Islam emang beda!
Kalo kamu berani mengatakan ini, syukur deh. Kenapa? Karena masih punya harga diri dan sekaligus percaya diri. Harga diri itu mahal, jarang ada yang rela kalo harga dirinya diinjak-injak (kecuali yang nekat dan gelap mata dengan menjual dirinya sendiri dalam kenistaan). Kebanyakan orang kalo bicara harga diri semangat dan antusias. Harga diri harus dipelihara karena urusan hidup dan mati.
Percaya diri berarti kita percaya dengan apa yang kita perbuat. Orang yang berani melakukan suatu perbuatan dan kegiatan, sudah pasti bertanggung jawab. Itu sebabnya, dengan memiliki rasa percaya diri bisa dipastikan orang tersebut udah punya alasan dan tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.
Yup, Islam memang beda. Beda banget dengan agama lain. Nggak bisa disamakan. Nggak bisa disatukan. Karena ibarat air dengan minyak, maka Islam nggak bisa dicampur dengan ajaran agama lain. Akan saling menolak dalam hal prinsip. Akan saling bertentangan dalam masalah akidah. Tidak ada gaya elektrostatis alais gaya tarik-menarik dalam urusan syariat antara Islam dan agama lain.
Sekarang coba kita bandingkan mulai dari yang sangat prinsip: yang disembah. Kita, kaum muslimin, cuma menyembah Allah Swt. bukan yang lain. Sementara agama lain, Nasrani misalnya, mereka punya konsep trinitas. Ajaran lain juga sama, menyekutukan Allah. Jelas beda kan? Firman Allah Swt.:
Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan. (QS al-An'aam [6]: 3)
Sementara dalam ayat lain, Allah Swt, pencipta kita semua menegaskan dalam firmanNya:
Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka. (QS al-An'aam [6]: 1)
Dalam pernyataan lebih jelas dan tegas, Allah Swt menyebutkan (yang artinya): “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS al-Maaidah [5]: 72)
Nah, kalo dari akarnya aja udah beda, maka batang, ranting, daun, bunga dan buahnya jelas berbeda dong. Tul nggak? Lagian kita belum pernah tuh denger ada pohon mangga berbuah durian (mungkin Om Broery aja yang pernah mendendangkan lagu yang ada liriknya “buah semangka berdaun sirih”!)
Maka sangat wajar dan adil jika Allah Swt. aja mengajarkan bahwa keyakinan kita berbeda dengan keyakinan agama lain. Itu sebabnya, jangan bingung pula kalo syariatnya juga beda. Maka, apa hak kita menyatakan bahwa semua agama sama? Sehingga kita merasa kudu terlibat dan melibatkan diri dalam ibadah agama mereka. Bahkan hal itu dianggap wajar.
Bener lho, saking nggak ngertinya, ada sebagian dari kita yang latah ikutan perayaan natal bersama, misalnya. Malah dengan semangat dan gagah berani biar dianggap toleran menyambut dan menyampaikan ucapan selamat kepada mereka. Ah, itu namanya sudah salah menempatkan toleransi dong. Karena dalam urusan keimanan dan ibadah ini nggak berlaku istilah toleransi. Sebaliknya, kita kudu keukeuh memegang prinsip. Allah Swt udah wanti-wanti soal ini dalam al-Quran (yang artinya): “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS al-Kaafiruun [109]: 1-6)
Islam akan menang!
Bukan sulap bukan sihir bukan pula guna-guna en santet, kalo Islam bakalan memenangkan semua ideologi dan agama yang ada di dunia ini. Allah bahkan sudah menjanjikan kemenangan itu dan menjaminnya tetap menang. Nih, pernyataan Allah Swt itu (yang artinya): “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (QS ash-Shaff [61]: 9)
Cuma masalahnya, kita udah siap nggak sebagai pemeluknya untuk berjuang membela Islam? Inilah yang kudu ditanyakan ke diri kita masing-masing. Ada baiknya memang kita introspeksi diri; udah sejauh mana sih kita cinta sama Islam, seberapa pantas masih menyandang gelar muslim, masih ragu nggak dengan ajaran Islam ini, masih suka malas nggak melaksanakan berbagai kewajibannya, masih kalah dengan hawa nafsu atau justru kita udah mampu mengendalikannya dan tunduk kepada syariat, masih kagum dengan potret bening kemaksiatan atau justru bersedia untuk ridho diatur dan pasrah kepada Allah Swt.?
Rasa-saranya ini emang yang sering kita lupakan. Kita lebih trengginas mengejar mimpi, sementara kenyataan yang ada dalam hidup kita dilepaskan. Kita bangga dengan westernisasi , dan malu bila masih berstatus muslim. Maka kita berlomba memamerkan aurat, padahal agama mengajarkan untuk menutupnya rapat-rapat. Kerudung dan jilbab dianggap kuno (kalo pun tetep dipake, tapi kudu ngikutin tren yang ada), sementara remaja muslimah banyak yang sregep mengenakan busana yang irit bahan (kali aja bermimpi bisa jadi kembarannya Jeniffer Aniston, Britney Spears, Mandy Moore, Shakira wa akwatuha )
Sobat muda muslim, kalo emang kita siap memenangkan Islam (dan menjaga kemenangannya), kita kudu setulus hati mencintainya. Karena cinta, adalah ketulusan. Kalo sudah sangat tulus mencintai, maka pengorbanan pun bukan sesuatu yang ditakutkan, malah dicari. Pemuda yang punya semangat seperti ini, nggak bakalan goyah menerima iming-iming ide murah dan murahan yang ditawarkan lingkungannya. Ia akan tetep berpegang teguh dengan prinsip hidupnya dan bangga menjadi seorang muslim.
Oke deh, mulai sekarang, kita benahi lagi cara pandang kita tentang iman dan Islam kita. Kita sanggup kok. Jangan sampe kita mengaku muslim, tapi sholat cuma sekali pas jadi mayat (eh, itu mah bukan sholat, tapi disholatkan!). Nah, mumpung belum disholatkan, mumpung belum pensiun dari dunia fana ini, kita kobarkan lagi semangat sebagai seorang muslim. Kita kokohkan iman kita, tingkatkan ilmu kita, dan baguskan amal kita. Kita ridho kepada Allah dan agar Allah pun ridho kepada kita.
Nah, mulai sekarang, yuk sama-sama kita kaji Islam, pahami, dan amalkan. Syukur-syukur kamu masih punya semangat untuk memperjuangkannya. Kita bisa barengan bahu-membahu dalam mensyiarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Biar semua kenal dan tahu. Ya, karena Islam emang beda dengan agama lain dan kita nggak usah nekat menyamakannya. Oke? Tetep semangat
•
19. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
[189] maksudnya ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran.
Sayangnya, sekarang banyak usaha-usaha yang menjurus ke arah sana dengan alasan perdamaian dunia. Karena menurut para penggagasnya, seluruh agama akarnya satu, yakni dari sang pencipta, sehingga mereka berdalil: “Kenapa harus berbeda? Berbeda itu bikin konflik dan itu sangat berbahaya!”
Tapi yang jelas, kalo kita mau berpikir lebih dalam lagi (gali sumur kali!), kita justru akan menemukan bahwa masing-masing agama memang beda. Beda banget. Bahkan bukan hanya beda, tapi juga bertentangan, dan bahkan saling menentang satu sama lain.
Itu sebabnya, tentu nggak bisa mendefinisikan atau membuat pernyataan yang cuma berdasarkan logika dan hawa nafsu kita. Tapi kebenaran adalah muncul dari yang membuat kebenaran itu sendiri, yakni pencipta kita, Allah Swt. Karena kalo kebenaran diserahkan kepada masing-masing manusia, maka yang muncul bukan kebenaran, tapi pembenaran. Udah gitu miskin makna dan kaya dengan salah persepsi.
Sobat muda muslim, ngomongin soal agama kata sebagian kalangan dianggap sensitif. Saking sensanifnya, eh, sensitifnya maka kita nggak boleh ngomongin agama secara vulgar di tempat umum. Misalnya, kamu nanya sama teman kamu di sekolah dalam forum umum: “Agama kamu apa?” Wuih, kayaknya kita dianggap arogan atau sok, atau dicap sebagai orang yang melontarkan pertanyaaan dengan nada sentimen atau tendensius serta SARA dan macam-macam pikiran lainnya.
Kenapa? Karena kita terbiasa menabukan hal tersebut. Dianggap bahwa agama adalah urusan masing-masing individu. Nggak boleh ada individu lain yang mempertanyakan dan mempersoalkan status agama seseorang. Alasannya, kita menjunjung kebersamaan. Jadi jangan heran pula kalo kemudian muncul istilah toleransi, anak bangsa, dialog lintas agama dan iman, dan lain sejenisnya untuk mengkampanyekan tentang pentingnya persamaan. Padahal jelas sangat berbeda jauh. Wong dasarnya juga beda kok. Jadi apa yang mau disamakan? Betul ndak? Semoga kamu bisa memahaminya.
Dalam tulisan di sampul depan buku Psikologi Agama karya Kang Jalal, panggilan akrab Jalaluddin Rakhmat, dituliskan bahwa agama adalah kenyataan terdekat dan misteri terjauh. Begitu dekat: ia senantiasa hadir dalam kehidupan kita sehari-hari—di rumah, kantor, media, pasar, di mana saja. Begitu misterius: ia menampakkan wajah-wajah yang sering tampak berlawanan—memotivasi kekerasan tanpa belas atau pengabdian tanpa batas; mengilhami pencarian ilmu tertinggi atau menyuburkan takhayul dan superstisi (ketakhayulan); menciptakan gerakan massa paling kolosal atau menyingkap misteri ruhani paling personal; memekikkan perang paling keji atau menebarkan kedamaian paling hakiki. (Mizan, 2003)
Nah, karena itulah barangkali ada orang yang merasa bingung dengan agama, mulai menghindarinya dan mengajarkan atheisme. Maka, nggak usah heran kalo Darwin, Marx, Freud membunuh Tuhan dan Nietzsche turun dari bukit, menyanyikan lagu Zarathusta: Gott is gestorben (alias Tuhan sudah mati) (Psikologi Agama, hlm. 64)
Sobat muda muslim, karena saat ini banyak kaum kaum muslimin yang mulai kendor ikatannya dengan ajaran Islam, ada pula yang bahkan sudah melawan setiap ajaran yang ada dalam Islam, juga banyak yang berupaya menyamakan Islam dengan agama yang lain, maka saya merasa perlu untuk menjelaskan (semoga saja mencerahkan), tentang masalah ini. Saya ingin menegaskan bahwa Islam emang beda dengan agama yang lain. Jadi, nggak bisa pula keyakinan kita digeser-geser dan dipindah-pindah ke tempat lain (digeser-geser? Emangnya pot bunga?)
Islam emang beda!
Kalo kamu berani mengatakan ini, syukur deh. Kenapa? Karena masih punya harga diri dan sekaligus percaya diri. Harga diri itu mahal, jarang ada yang rela kalo harga dirinya diinjak-injak (kecuali yang nekat dan gelap mata dengan menjual dirinya sendiri dalam kenistaan). Kebanyakan orang kalo bicara harga diri semangat dan antusias. Harga diri harus dipelihara karena urusan hidup dan mati.
Percaya diri berarti kita percaya dengan apa yang kita perbuat. Orang yang berani melakukan suatu perbuatan dan kegiatan, sudah pasti bertanggung jawab. Itu sebabnya, dengan memiliki rasa percaya diri bisa dipastikan orang tersebut udah punya alasan dan tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.
Yup, Islam memang beda. Beda banget dengan agama lain. Nggak bisa disamakan. Nggak bisa disatukan. Karena ibarat air dengan minyak, maka Islam nggak bisa dicampur dengan ajaran agama lain. Akan saling menolak dalam hal prinsip. Akan saling bertentangan dalam masalah akidah. Tidak ada gaya elektrostatis alais gaya tarik-menarik dalam urusan syariat antara Islam dan agama lain.
Sekarang coba kita bandingkan mulai dari yang sangat prinsip: yang disembah. Kita, kaum muslimin, cuma menyembah Allah Swt. bukan yang lain. Sementara agama lain, Nasrani misalnya, mereka punya konsep trinitas. Ajaran lain juga sama, menyekutukan Allah. Jelas beda kan? Firman Allah Swt.:
Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan. (QS al-An'aam [6]: 3)
Sementara dalam ayat lain, Allah Swt, pencipta kita semua menegaskan dalam firmanNya:
Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka. (QS al-An'aam [6]: 1)
Dalam pernyataan lebih jelas dan tegas, Allah Swt menyebutkan (yang artinya): “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS al-Maaidah [5]: 72)
Nah, kalo dari akarnya aja udah beda, maka batang, ranting, daun, bunga dan buahnya jelas berbeda dong. Tul nggak? Lagian kita belum pernah tuh denger ada pohon mangga berbuah durian (mungkin Om Broery aja yang pernah mendendangkan lagu yang ada liriknya “buah semangka berdaun sirih”!)
Maka sangat wajar dan adil jika Allah Swt. aja mengajarkan bahwa keyakinan kita berbeda dengan keyakinan agama lain. Itu sebabnya, jangan bingung pula kalo syariatnya juga beda. Maka, apa hak kita menyatakan bahwa semua agama sama? Sehingga kita merasa kudu terlibat dan melibatkan diri dalam ibadah agama mereka. Bahkan hal itu dianggap wajar.
Bener lho, saking nggak ngertinya, ada sebagian dari kita yang latah ikutan perayaan natal bersama, misalnya. Malah dengan semangat dan gagah berani biar dianggap toleran menyambut dan menyampaikan ucapan selamat kepada mereka. Ah, itu namanya sudah salah menempatkan toleransi dong. Karena dalam urusan keimanan dan ibadah ini nggak berlaku istilah toleransi. Sebaliknya, kita kudu keukeuh memegang prinsip. Allah Swt udah wanti-wanti soal ini dalam al-Quran (yang artinya): “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS al-Kaafiruun [109]: 1-6)
Islam akan menang!
Bukan sulap bukan sihir bukan pula guna-guna en santet, kalo Islam bakalan memenangkan semua ideologi dan agama yang ada di dunia ini. Allah bahkan sudah menjanjikan kemenangan itu dan menjaminnya tetap menang. Nih, pernyataan Allah Swt itu (yang artinya): “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (QS ash-Shaff [61]: 9)
Cuma masalahnya, kita udah siap nggak sebagai pemeluknya untuk berjuang membela Islam? Inilah yang kudu ditanyakan ke diri kita masing-masing. Ada baiknya memang kita introspeksi diri; udah sejauh mana sih kita cinta sama Islam, seberapa pantas masih menyandang gelar muslim, masih ragu nggak dengan ajaran Islam ini, masih suka malas nggak melaksanakan berbagai kewajibannya, masih kalah dengan hawa nafsu atau justru kita udah mampu mengendalikannya dan tunduk kepada syariat, masih kagum dengan potret bening kemaksiatan atau justru bersedia untuk ridho diatur dan pasrah kepada Allah Swt.?
Rasa-saranya ini emang yang sering kita lupakan. Kita lebih trengginas mengejar mimpi, sementara kenyataan yang ada dalam hidup kita dilepaskan. Kita bangga dengan westernisasi , dan malu bila masih berstatus muslim. Maka kita berlomba memamerkan aurat, padahal agama mengajarkan untuk menutupnya rapat-rapat. Kerudung dan jilbab dianggap kuno (kalo pun tetep dipake, tapi kudu ngikutin tren yang ada), sementara remaja muslimah banyak yang sregep mengenakan busana yang irit bahan (kali aja bermimpi bisa jadi kembarannya Jeniffer Aniston, Britney Spears, Mandy Moore, Shakira wa akwatuha )
Sobat muda muslim, kalo emang kita siap memenangkan Islam (dan menjaga kemenangannya), kita kudu setulus hati mencintainya. Karena cinta, adalah ketulusan. Kalo sudah sangat tulus mencintai, maka pengorbanan pun bukan sesuatu yang ditakutkan, malah dicari. Pemuda yang punya semangat seperti ini, nggak bakalan goyah menerima iming-iming ide murah dan murahan yang ditawarkan lingkungannya. Ia akan tetep berpegang teguh dengan prinsip hidupnya dan bangga menjadi seorang muslim.
Oke deh, mulai sekarang, kita benahi lagi cara pandang kita tentang iman dan Islam kita. Kita sanggup kok. Jangan sampe kita mengaku muslim, tapi sholat cuma sekali pas jadi mayat (eh, itu mah bukan sholat, tapi disholatkan!). Nah, mumpung belum disholatkan, mumpung belum pensiun dari dunia fana ini, kita kobarkan lagi semangat sebagai seorang muslim. Kita kokohkan iman kita, tingkatkan ilmu kita, dan baguskan amal kita. Kita ridho kepada Allah dan agar Allah pun ridho kepada kita.
Nah, mulai sekarang, yuk sama-sama kita kaji Islam, pahami, dan amalkan. Syukur-syukur kamu masih punya semangat untuk memperjuangkannya. Kita bisa barengan bahu-membahu dalam mensyiarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Biar semua kenal dan tahu. Ya, karena Islam emang beda dengan agama lain dan kita nggak usah nekat menyamakannya. Oke? Tetep semangat
•
19. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
[189] maksudnya ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran.
Labels:
Agama
Subscribe to:
Posts (Atom)


